Rabu, 03 Juni 2015

Galakasi Kinanthi : Sekali Mencintai Sudah Itu Mati?

Judul : Galakasi Kinanthi : Sekali Mencintai Sudah Itu Mati?
Penulis : Tasaro G.K.

Saya membeli buku ini dalam kondisi sekon dengan kualits 98%. He..he.. Cukup beruntung juga ya. Jadi buku ini saya beli dari tetangga saya yang udah 'over' dengan buku-buku bacaan. Dan, menurut pengakuannya, buku Galaksi Kinanthi nya Tasaro G.K . ini tidak tuntas dibacanya karena 'berat'. Bukan berat dalam arti bobot bukunya, tetapi berat dari segi bahasanya.

Ini adalah  buku ketiga Tasaro G.K yang saya baca, setelah Muhammad : Lelaki Penggenggam Hujan dan Muhammad 2 : Para Pengeja Hujan. Dan saya suka bagaimana Tasaro G.K menuturkan sirah nabawiyah melalui 2 buku tersebut. 

Ok, kembali ke Galaksi Kinanthi. 

Novel ini bercerita mengenai tokoh utama yang bernama Kinanthi. Ia adalah anak kecil dari dusun terpencil di desa Gunung Kidul. Kesehariannya diisi dengan sekolah, lalu mengasuh adiknya yang bernama Hasto. Kinanthi berteman akrab dengan seorang anak rois dusun yang bernama Ajuj. Hanya Ajuj yang mau berteman dengan Kinanthi, sedangkan anak-anak lain kerap meledek Kinanthi karena Ayahnya penjudi, dan ibunya adalah seorang wanita yang seperti terkena 'kutukan' karena tiap pria yang menikah dengannya akan meninggal. 

Kondisi ekonomi mereka sulit dan memprihatinkan. Sampai pada suatu waktu, orang tua Kinanthi 'menjual' Kinanthi kepada Pak Edi dengan bayaran 50 kg beras. Di rumah Pak Edi dan istri, Kinanthi dijadikan pembantu, namun tetap disekolahkan, hingga SMP. Kinanthi merupakan anak yang cerdas. Sampai pada suatu hari ada seorang siswa yang mendekati Kinanthi, kemudian di sebuah tempat hendak berbuat jahat kepada kinanthi, namun Kinanthi berhasil selamat dari peristiwa tersebut. Kemudian ada suatu kejadian yang menimpa siswa tersebut, sehingga Kinanthi dipersalahkan. Pak Edi dan istri akhirnya 'menyerahkan' Kinanthi ke agen TKW, dan dari sini perjuangan atau lebih lengkapnya penderitaan Kinanthi dimulai.

Ia sempat bekerja di sebuah keluarga di Jeddah, kemudian kabur karena melihat perlakuan yang tidak baik dari majikan laki-lakinya kepada teman TKW nya Marni. Lalu di tempat pengaduan TKW bermasalah, Kinanthi yang saat itu usianya masih 15 tahun, yang dokumennya dipalsukan agar bisa bekerja (menjadi usia 17 tahin) terkena 'ipu' lagi oleh orang Indonesia yang ternyata agen TKW juga. Kembalilah Kinanthi melanglang buana ke Kuwait. Ada masalah kembali dengan tuannya, Kinanthi akhirnya dipertemukan dengan keluarga Kuwait, yang nampak manis dan baik. Kinanthi pun mengikuti keluarga tersebut hijrah ke Amerika. Di Amerika, keluarga tersebut ternyata bersaudara dengan keluarga di Kuwait yang pernah diikuti Kinanthi, dan mereka melancarkan 'balas dendam' kepada Kinanthi. Sampai suatu ketika, di titik nadir penderitaannya, Kinanthi berhasil kabur dari keluarga tersebut. Singkat cerita, Kinanthi ditolong oleh Ny. Arsy, seorang muslimah Mesir yang tulus dan seorang intepreter bernama Miranda. Di pengadilan, dengan pengaduan atas kejadian yang Kinanthi alami, akhirnya pengadilan memutuskan untuk membiayai Kinanthi dan juga mensupport biaya pendidikannya.

Tahun berjalan, Kinanthi berhasil memperoleh gelar Profesornya. Ia berceramah kemana-mana. Bukunya laris manis. Kinanthi berteman akrab dengan editor bukunya, Zaxhi. Mereka berdiskusi, travel ke berbagai tempat. Zaxhi memiliki rasa ke Kinanthi, namun perasaan Kinanthi tetap pada Ajuj. 

Hingga suatu hari, Kinanthi memutuskan untuk kembali ke Gunung Kidul. Selama perpisahaan mereka, ternyata Ajuj pun juga berjuang mencari Kinanthi, hingga ia pun menyerah. Pertemuan Kinanthi dengan Ajuj yang sudah lebih dari dua puluh tahun berpisah ternyata tidak membuat hubungan keduanya 'luwes' seperti sewaktu mereka kecil. Ajuj yang sebentar lagi hendak menikah dan Kinanthi dengan penampilannya yang sudah sangat berubah. Dan dua puluh tahun itu Kinanthi selalu berkirim surat, namun Ajuj tidak pernah  menerimanya, dan ternyata surat-surat Kinanthi yang berjumlah 113 buah itu disimpan oleh Ibu Ajuj. 

Suatu hari terjadi gempa dahsyat di Bantul. Dan saat itu Ajuj sedang ke Gunung Gamping. Ajuj diketemukan dengan kondisi yang parah. Setahun kondisinya koma, dan Kinanthi yang membiayai semua pengobatan Ajuj. Akhir cerita, Ajuj sudah mulai menunjukkan kesadaran, sementara Kinanthi sudah bertolak kembali ke Amerika.

Ini adalah buku ketiga Tasaro GK yang saya baca setelah Muhammad Lelaki Penggenggam Hujan dan Muhammad Para Pengeja Hujan. Two thumbs up untuk Tasaro GK yangselalu menyajikan alur bercerita yang enak diikuti.

Dalam novel Galaxy Kinanthi ini, ada suatu quotes dari Kinanthi yang saya suka. Berhbubung saya menuliskan review ini dengan tidak ada bukunya, maka saya tuliskan saja intinya yah... Kinanthi mengatakan bahwa balas dendam yang tidak merugikan adalah engkau bekerja keras untuk meraih suksesmu. Jika kita dilecehkan oleh orang lain, dihina, atau diperlakukan tidak baik, tidak usah sibuk mencari cara untuk membalasnya. Bekerja keraslah, dan raihlah sukses kita, maka itu akan cukup menjadi bals dendam kita yang terpuaskan dan tidak akan pernah ada orang lain yang dirugikan. 

Keunikan dari kisah Galaxy Kinanthi adalah bagaimana cara Tasaro membolak-balikkan persepsi. Keluarga muslim yang seharusnya memperlakukan sesama dengan baik, malah bertindak bengis pada pembantunya. Negeri Amerika yang dianggap 'gudangnya' keburukan moral malah memberikan bantuan hidup dan pendidikan untuk Kinanthi. Seorang roih kampung (Bapaknya Ajuj) malah terlibat affair dengan seorang biang gosip di kampung yang ternyata sudah hamil empat bulan. Seorang istri rois (Ibu AJuj) ternyata tidak paham posisinya sebagai istri menurut syariah Islam, sehingga ia pasrah terhadap prilaku suaminya. 

Pembolak-balikan fakta itu bukan untuk memelintirkan persepsi kita yang baik. Tetapi harus dipahami dengan sudut pandang bahwa prilaku buruk manusia itu bukan karena agamanya, tapi memang karena akhlak manusia tersebut yang tidak menjalankan agamanya dengan baik.

Overall, saya suka novel ini. Termasuk romance, tetapi tidak menye-menye. 

2 thumbs up untuk Mas Tasaro G.K. 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar