Rabu, 08 Juli 2015
Beyond The Inspiration
Judul : Beyond The Inspiration
Penulis : Felix Y. Siauw
Penerbit : Al Fatih Press
ISBN : 978-602-17997-1-0
Jumlah halaman : ii + 267
Buku ini saya beli menjelang Ramadhan melalui toko buku online. Ada beberapa alasan saya membeli buku ini :
1. Edisi Ramadhan, jadi bacaan saya harus berubah dunk, dari fiksi ke buku-buku Islam. Dan semoga ke depannya saya semakin banyak membaca buku-buku Islam. Amiin.
2. Saya sudah membaca buku Al Fatih 1453 tulisannya Felix Y. Siauw juga, dan saya ingin membaca buku lain tulisannya Beliau.
ok... Saya bahas ya... (maaf kalo gaya bahasannya bukan gaya peresensi. he..he.. )
Dari sampulnya, yang berwarna kuning ini, seperti masih satu tema dengan buku Muhammad Al Fatih 1453. Latar kuning, dengan gambar geografis. Di buku Muhammad Al Fatih gambarnya adalah peta wilayah, sedangkan di buku Beyond the Inspiration gambarnya adalah Menara Pisa dengan bendera bertuliskan syahadat di puncaknya, dan gedung (saya tidak tau gedung apa) di sebalah kanan menara pisa tersebut. Yang menjadi pertanyaan, mengapa warna kuning yang menjadi pilihan warnanya?
Lanjut masuk ke dalam buku, buku ini terdiri dari mukadimah, 9 tema (termasuk prologue dan epilogue).
Secara keseluruhan, buku ini ingin membukakan mata kita, umat muslim, bahwa kita harus kembali kepada ajaran Islam yang kaffah untuk bisa menguasai peradaban dunia, tentu saja ini sejalan dengan Islam sebagai Rahmatan lil 'Alamin dan juga karena manusia sebagai khalifah atau pengatur di muka bumi.
Ada beberapa hal yang cukup menohok pikiran saya dalam buku ini.
Yang pertama adalah mengenai syahadat. Umat muslim di Indonesia mengartikan Asyhadu An laa Ilaaha Illallah. Ternyata Ilah yang bisa kita artikan sebagai 'Tuhan' itu tidak mencukupi makna sebenarnya. kata Tuhan seharusnya adalah arti dari 'Rabb'. Sedangkan Ilah, artinya sesembahan. No wonder, kita mengakui Allah sebagai Tuhan, tapi masih memiliki 'sesembahan' lain. Atau bahasa mudahnya, kita lebih memprioritaskan hal lain ketimbang Allah.
Hal ini terjadi seperti orang-orang Jahiliyah pada masa Nabi Muhammad SAW. Secara bersamaan sebenarnya saya sedang membaca Sirah Nabawiyah nya Al Mubarakfuri, dan di dalamnya saya mendapati orang -orang kafir quraisy suka berkata Demi Allah xxxx... padahal mereka tidak mau menerima Islam dan tidak mau mengimani Allah dan rasulnya. jadi orang jahiliyah itu mengakui Tuhan / Rabb yaitu Allah, tetapi memiliki sembahan lain, yaitu berhala-berhala, seperti Latta, Uza, dan lain-lain.
Misalnya (ini teguran untuk saya dan keluarga juga sebenarnya) : transaksi yang kita lakukan sehari-hari apakah sudah bersih dari riba? Dengan dalih macam-macam, rasanya kita masih beloum bisa (atau belum mau) untuk move on dari hal ini?? Padahal Allah sudah berfirman dalam Al Baqarah ayat 275.
Di bagian lain juga membahas bagaimana kebiasaan kita lalai dari panggilan shalat. Jika sudah masuk waktu shalat, kita masih tetap asyik melakukan pekerjaan yang sedang kita lakukan. Dengan alasan tanggung, dan lain-lain. Padahal shalat itu kan ditegakkan, bukan hanya dilaksanakan. Hiks...ini bagian yang paling penting untuk introspeksi diri.
jadi, syahadat harus kita maknai ulang dengan sebenarnya agar semua orientasi kita adalah untuk Allah SWT semata.
Kemudian bagian yang lain adalah mengenai imperium islam yang pernah mengusasi dunia selama lebih dari 13 abad. Saat itu Islam dijalankan secara total atau menyeluruh. Sains modern mencapai kemajuannya, dimana kita akan mengenal Alkhwarizmi, Ibnu Sina dengan Ilmu kedokterannya, Aljabar penemu angka 0, Masya Allah... Dari segi ekonomi, inslasi pun 0%, tingkat kriminalitas paling minim, dan khilafah yang mampu menjamin kesejahteraan warga negaranya. saya merinsing saat menulis ini... Betapa buruk akibat yang kita rasakan saat ini dikarenakan kita tidak menjalankan Islam secara total. Astaghfirullah Al Azhiim.
Oh ya, di saat yang hampir bersamaan, saya juga membeli buku ini :
Di mana di dalamnya bercerita mengenai teknologi dalam peradaban Islam. Saya baru membaca sekilas, beberapa hal yang bisa saya notis adalah mengenai mekanisme pengangkutan sampah dari tiap rumah sehingga jalan-jalan menjadi bersih, arsitektur Islam yang indah, teknologi 'jahit' di bidang medis, ilmu tentang mata oleh Ibnu Al Haytam. Wow... Masya Allah. Dan sungguh saya terkagum-kagum dengan para scientist pada zaman dahulu. mereka mumpuni di bidang ilmu mereka (kedokteran, matematika, astronomi, dll) dan juga mereka adalah pecinta Al Quran yang hebat. Mereka juga mengerti tafsir lho. Jadi tidak ada dikotomi antara ilmu agama dan ilmu non agama. Which is sesungguuhnya semua ilmu sumbernya dari Allah SWT.
Penaklukan oleh pimpinan Islam pun bukanlah perkara strategi perang belaka. Muhammad Al Fatih adalah seseorang yang menjaga shalat wajib nya (pastinya ontime dunk), shalat rawatib, dan shalat tahajud. Sejak baligh Beliau tidak pernah bolos melaksanakan Tahajud. Sedangkan kita?? Jangan tanya lah....
Jadi kedekatan Beliau kepada Allah SWT melalui ibadah yang dilakukan adalah faktor penentu dalam Beliau bisa merebut Konstantinopel. Pun Orang-orang hebat lainnya, sebut Shalahuddin Al Ayyubi, Nurudin Zanki, Umar bin Abdul Aziz, dan lain-lain.
Teristimewa, pastilah Nabi Muhammad SAW, menyampaikan ajaran Islam selama 23 tahun dengan segala macam tantangannya. Tuga mulia dan berat ini keberhasilannya pastilah karena Nabi Muhammad SAW senantiasa memelihara kedekatan dan kecintaan pada Rabb nya.
Bab terakhir yang cukup membuka pikiran saya adalah ternyata kita hidup di dunia ini sebentar saja. Jika dibandingkan lamanya ita di padang mahsyar nanti yang selama 50.000 tahun, maka hidup kita di dunia (asumsi, umur rata-rata manusia sekitar 70 tahun), maka waktu hidup kita di dunia hanyalah 2 menit 1 detik. Hanya sekejap saja. Jadi, adalah hal yang sangat cerdas apabila kita mempersiapkan kampung akhirat kita. Karena saat ini rasanya kita (eh.. saya kali ya..) seringnya bikin perencanaan dunia. Tahun depan mau apa, lima tahun lagi apa, dst. Tapi untuk akhirat, jarang rasanya kita bersungguh-sungguh membuat perencanaan yang matang.
Mudah-mudahan review ini bermanfaat. I strongly recommend us (as a Moslem) to read this book.




Tidak ada komentar:
Posting Komentar