Rabu, 21 September 2016

Kenapa kita sering Capek di dunia ??

BEGINI lah  Al-Qur’an bertutur, mmbuat sbuah panduan yg brharga untuk setiap muslim, bhwa apa yg kita tuju mnentukn cara kita utk sampai kepadanya.

Pertama. Urusan brdzikir (Shalat), printahnya adalh “Berlarilah !”🏃🏻
“Wahai org yg beriman, apabila kalian diseru utk mnunaikan sholat jum’at, mk brlarilah kalian mngingat Allah dan tinggalkanlh jual beli.” (QS. Al-Jum’ah: 9).

Kedua. Urusan mlakukn kbaikan, printahnya adalh “Brlombalah!” 🏇🏿🏇🏿
“maka brlomba2lah dlm brbuat kbaikan.” (QS. Al-Baqarah: 148).


Ketiga. Urusan meraih ampunan, printahnya adalh “Brsegeralah!” 🙏
“dan brsegeralh kamu mnuju ampunn dr Tuhanmu&mnuju surga…” (QS. Ali Imron: 133).


Keempat. Urusan mnuju Allah, printahnya adlh “Brlarilah dg cepat!”🏃🏻🏃🏻🏃🏻
“Mk berlarilah kmbali ta’at kpd Allah.” (QS. Adz-Dzaariyat: 50).


Kelima. Tp Urusan mnjemput rizki (duniawi), printahny hanyalah “Brjalanlah!” 🚶🚶

Sejatinya Berqurban

Sahabat Odojers ...
Cobalah sejenak kita napak tilas pada kisah yang fenomenal ini!
Ketika Nabi Ibrahim a.s. mengajari tentang makna sebuah PENGORBANAN melalui peristiwa penyembelihan Nabi Ismail a.s. yang merupakan putra semata wayangnya.
Ketika perintah Allah SWT ditempatkan pada kedudukan tertinggi kepemilikan, maka sepatutnyalah kita dapat mengambil ibroh tentang hakikat pengorbanan yang sejati.
Hakikat yang dimiliki oleh seseorang yang tulus, murni, dan seutuhnya diberikan kepada Yang Satu, Pemilik Seluruh Alam Semesta dan Segala Isinya.

Sahabat Odojers...
Jika setiap kita ditakdirkan menjadi seorang IBRAHIM di masa kekinian, maka tentunya kita memiliki ISMAIL yang juga selalu siap untuk dikorbankan.

Jikalau ISMAIL dapat diibaratkan sebagai HEWAN TERNAK terbaik yang dimiliki oleh kita di Idul Adha dan hari Tasyrik, maka secara tersirat pula dapat dimaknai sebagai sesuatu yang kita cintai di dunia ini.

ISMAIL bisa jadi adalah simbol kepemilikan kita atas: HARTA, PASANGAN HIDUP, ANAK-ANAK, JABATAN, GELAR atau bahkan EGO kita.
Semua itu dapatlah menjadi SARANA UJIAN bagi kita, dimana hati akan ditempa karenanya agar semakin Tahan UJI.

Sahabat Odojers...
Betapa banyak orang yang berqurban di hari raya, namun masih melalaikan ibadah fardhunya.
Betapa banyak orang yang masih malas menjalankan sunah-sunahnya dan menunda amal sholehnya. Betapa akhirnya, 'prosesi penyembelihan ternak' hanyalah menjadi sekedar seremonial belaka tanpa makna berarti.
Sia-sia karena tak mampu dimaknai hakikinya.

Sahabat Odojers...
Ketika Nabi Ibrahim a.s. diperintah Allah untuk menyembelih Nabi Ismail a.s., maka Beliau telah membunuh rasa KEPEMILIKAN yang tinggi terhadap anak yang sangat dicintainya. Allah memintanya untuk melakukan tindakan tersebut, agar Beliau sadar bahwa semua yang melekat pada diri kita ini hanyalah Amanah, yang sifatnya sebagai titipan sementara.
Sejatinya, semua "ISMAIL-ISMAIL" adalah milik Allah.

Sahabat Odojers ...
Marilah mencoba untuk pasrahkan pengorbanan kita seutuhnya hanya pada Robb!
Berikanlah pengorbanan sejati atas apa yang kita cintai di dunia ini!
Jangan sampai pengorbanan tersebut menjadikan kita sebagai pecundang, pemalas, pendengki, dan sederet keburukan sifat lainnya!
Jadikanlah tilawah dan amal sholeh kita menjadi semakin berkualitas!
Keep istiqomah dalam meraih  ridho-Nya!

Salam Full Semangat...!!!
Selamat Idul Adha 1437 H
Semoga Qurban kita tahun ini mampu mengantarkan kita menjadi pribadi yang lebih berkualitas.
Aamiin Allahumma Aamiin ...

Akso Diana
Divisi Training Motivasi ODOJ
Email: trainingmotivasiodoj@gmail.com

PSDM/TM/150/13/09/2016

Nasihat Imam Syafi'i

Dunia adalah tempat yang licin nan menggelincirkan, rumah yang hina, bangunan-bangunannya akan runtuh, penghuninya akan beralih ke kuburan, perpisahan dengannya adalah sesuatu keniscayaan, kekayaan di dunia sewaktu-waktu bisa berubah menjadi kemiskinan, bermegah-megahan adalah suatu kerugian, maka memohonlah perlindungan Allah swt, terimalah dengan hati yang lapang segala karunia-Nya.

Jangan terpesona dengan kehidupanmu di dunia sehingga meninggalkan kehidupan Akhirat. Ketahuilah, sesungguhnya hidupmu di dunia akan sirna, dindingnya juga miring dan hancur, maka perbanyaklah perbuatan baik dan jangan terlalu banyak berangan-angan.

Imam Syafi'i

Bagaimanakah Tilawahmu Hari Ini?

Oleh: Sholehah Nisaul Jannah


Jika perutmu terasa lapar
Di tengah kepenatan yang terasa,
Engkau 'kan tetap berusaha mencari sesuap nasi atau apapun yang bisa mengenyangkan perutmu

Pun bila engkau haus
Siang yang panas
Tubuh yang letih
Tak menghalangimu 'tuk mencari pelepas dahaga

Bagaimana jika jiwamu yang lapar?

Telah berlalu hari-harimu tanpa tilawah
Engkau tinggalkan sujud panjang
Doa-doamu tak lagi syahdu
Tiada lagi nikmat dalam shalatmu
Tiada lagi rindu dan cinta menyambut panggilan Rabb-mu

Menangislah duhai diri
Mungkin cintamu tak seindah dulu
Mungkin rindumu tak semenggebu dulu

Kemanakah menguapnya?

Ia pergi seiring engkau tak lagi peduli
Seiring sibukmu yang tak bertepi
Beribu alasan membuatmu jauh
Sedang hatimu makin terasa keruh

Al Qur'an kesayangan menantimu
Jangan biarkan ia berdebu
Ia bukan pajangan sekedar penghias lemarimu
Pun bukan penambah koleksi rak bukumu

Bacalah...
Bacalah...
Bacalah...
Meski hanya beberapa ayat
Jangan tinggalkan
Jangan biarkan
Ia-lah obat segala lelahmu
Ia-lah obat segala resahmu
Ia-lah penolongmu di akhirat kelak

#muhasabahdiri
#Allahummarhamnaabilquran


◇◇•◇◇•◇◇•◇◇•◇◇•◇◇
AIHQ - DK PSDM ODOJ
AIHQ/171/15/09/2016
oaseodoj@gmail.com

Hidup Ini Misterius

Sudah menjadi ketentuan Allah bahwa HIDUP INI MISTERIUS. Tak seorang pun yang bisa mengetahui nasib dan masa depannya.

Kalau mau hidup tenang, jalankan saja sesuai arahan Allah. Indikasinya:

1⃣ Semakin hari semakin diberi Allah kefahaman tentang Islam.

2⃣ Semakin hari semakin dekat pada Allah.

3⃣ Semakin hari semakin yakin, bertawakkal dan bertaqwa pada Allah.

4⃣ Semakin hari semakin bertambah ilmu tentang Islam dan amal shaleh.

5⃣ Semakin hari semakin siap menghadapi kematian.

6⃣ Semakin hari semakin berharap /rindu bertemu Allah dan semakin takut pada azab neraka.

📍Ada 5 hal yang Allah rahasiakan :
---------------------------------
1| Tak seorang pun tahu kapan persisnya kiamat itu terjadi.

2| Berapa jumlah / kuantitas hujan yang Allah turunkan.

3| Bagaimana nasib bayi yang ada dalam kandungan.

4| Apa yang akan dilakukan seseorang esok hari.

5| Di atas belahan bumi mana ia wafatkan kita.

Sungguh Allah Maha Mengetahui lagi Maha Berpengetahuan..

إِنَّ ٱللَّهَ عِندَهُۥ عِلْمُ ٱلسَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ ٱلْغَيْثَ وَيَعْلَمُ مَا فِى ٱلْأَرْحَامِ ۖ وَمَا تَدْرِى نَفْسٌ مَّاذَا تَكْسِبُ غَدًا ۖ وَمَا تَدْرِى نَفْسٌۢ بِأَىِّ أَرْضٍ تَمُوتُ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌۢ ﴿٣٤﴾

"Sesungguhnya hanya di sisi Allah ilmu tentang hari Kiamat; dan Dia yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan dikerjakannya besok. Dan tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Mengenal."

(Q.S.31:34)

Pilih Yang Mana?

 Lebih baik mana? orang banyak ibadah tapi berakhlak buruk atau tak beribadah tapi berakhlak baik? 

"Wahai Syaikh, manakah yang lebih baik, seorang muslim yang banyak ibadahnya tetapi akhlaqnya buruk ataukah seorang yang tak beribadah tapi amat baik perangainya pada sesama?" teriak seorang pemuda.

"Subhaanallah, keduanya baik", ujar sang Syaikh sambil tersenyum."

"Mengapa bisa begitu?" desak si pemuda.

"Karena orang yang tekun beribadah itu boleh jadi kelak akan dibimbing Allah untuk berakhlaq mulia bersebab ibadahnya. Dan karena orang yang baik perilakunya itu boleh jadi kelak akan dibimbing Allah untuk semakin taat kepadaNya."

"Jadi siapa yang lebih buruk?" desak si pemuda penasaran.

Air mata mengalir di pipi sang Syaikh. "KITA ANAKKU" ujar beliau.

"Kitalah yang layak disebut buruk sebab kita gemar sekali menghabiskan waktu untuk menilai orang lain dan melupakan diri kita sendiri." Beliau terisak-isak.

"Padahal kita akan dihadapkan pada Allah dan ditanyai tentang diri kita bukan tentang orang lain."


اَيَحْسَبُ الْاِنْسَانُ اَنْ  يُّتْرَكَ سُدًى

"Apakah manusia mengira, bahwa dia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggung jawaban)?" (Qs. Al-Qiyamah 36)


 اِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ اُولٰۤئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُوْلًا

"Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggung jawabannya." (Qs. Al-Isra' 36)

Detox Diri

Sistem pencernaan kita kemasukan makanan-makanan tidak sehat setiap hari. Mulai dari pengawet, pewarna, pemanis buatan, dan sebagainya.

Oleh karena itu kita perlu sesering mungkin mengkonsumsi makanan yang bersifat detox yang akan membersihkan racun keluar tubuh. Contohnya apel dan jeruk lemon.

Begitu pula panca indera kita mata, telinga, dan lisan. Setiap hari terkontaminasi aktivitas tidak sehat.

Mata melihat hal yang diharamkan, lisan berbicara yang menyakiti saudaranya, dan telinga ikut mendengarkan.

Oleh karena itu kita perlu setiap hari membaca Al-Quran, sebagai detox yang akan membersihkan racun dalam panca indera kita. Perhatikan keajaiban ini, ketika membaca Al-Quran ketiga panca indera kita bekerja.

Mata melihat mushaf, lisan membaca nya dengan suara yang didengar oleh telinga kita sendiri. Sekali mendayung tiga pulau terlampaui.

Bahkan pikiran dan hati kita ikut di bersihkan, bila kita membaca Al-Quran sambil menghadirkan hati.

Oleh karena itu orang yang jauh dari Al-Quran, panca indera nya sudah penuh dengan kotoran maksiat, pikiran nya sudah tidak bisa jernih, dan hatinya sudah lelah dan tidak tenang.

Jika kita yang mengalami hal ini, seharusnya kita segera detox panca indera, pikiran, dan hati kita dengan kembali kepada Al-Quran.

Wassalam.
⏲ Waktunya berubah ke arah yang lebih baik !

Keping Cerita Dari Tanah Suci

Selama di Arafah dan Mina ada 1 hal yang sangat terasa. Kalau selama ini kami hanya bergaul dengan kawan2 sekamar, tapi di Mina kami tidur di bawah tenda dengan seluruh jamaah berbagi lapak tempat tidur tanpa kasur dan bantal empuk yang biasanya kami dapatkan di Hotel. Kami bisa melihat satu sama lain, dan membuat aku tercengang membaca pembelajaran dari Allah.

Betapa banyak contoh2 di depan mata, ada ibu yang berusia 68 tahun yang menderita hemiplegi (lumpuh setengah badannya) karena stroke tahun lalu akibat hipertensi dan diabetes berhaji dengan suaminya yang hipertensi dan mulai pikun, mereka ditemani putrinya yang merawat ibunya mulai dari mengganti pampers, memberi obat, membujuk makan... antri di toilet... dan segala tetek bengek yang sangat menguras energi dan emosi namun terlihat sangat sabar, tidak terlihat sedikit pun rasa lelah di wajahnya. Sang Ayah terlihat tidak bisa banyak membantu karena beliau juga harus berjuang untuk dirinya. Kami pernah berkeliling mencari Bapak tsb karena hilang setelah miqot di Tan 'im. Baru ditemukan dinihari secara kebetulan di maktab lain.

Di sudut lain ada pemuda yang sangat santun membujuk ibunya yang sakit rematik tapi ngotot mau ikut jalan kaki melontar kiloan meter. Cara pemuda ini membujuk ibunya di setiap tindakannya, membuat kami diam2 berdo'a semoga memiliki putra yang santun dan soleh seperti dia. Bahkan mau ke toilet pun si pemuda permisi pada ibunya: "mamak ada perlu? Nanti mamak jangan cari saya ya. Saya ke toilet sebentar, mungkin agak lama karena ngantri. Gak apa2 kan mak..." katanya sambil mencium kening ibunya sepintas. Kami terpesona melihat kesantunan anak muda itu. Kami bertanya pada ibunya: "apa do'a ibu untuk anak ibu?" Ibu itu hanya tersenyum. Masya Allah...betapa beruntungnya ibu itu.

Di sisi lain aku melihat seorang ibu yang selalu meneteskan airmata diam2 karena ucapan kasar yang sering terlontar dari mulut anaknya di depan orang lain. Keriput di wajahnya menghilangkan aliran airmata itu. Aku genggam tangannya dengan lembut.

Banyak sekali kisah yang berbicara tanpa skenario, semua dipertontonkan Allah SWT di depan kami, membuat kami lupa sejenak rasa panas dengan temperatur hampir 52°C di bawah tenda Arafah.

Membaca kisah di atas, dalam diam saya pun berdoa mengharap mendapatkan anak dan menantu yang sholeh dan sholehah. Saya juga melihat sendiri beberapa anak laki2 begitu sabar terhadap ibu mereka...mengantar keperluan mereka ke toilet, ikut mengantri, selalu membersamai ibu baik memapah atau mendorong kursi roda.
 Namun ada juga wajah wajah kesal sulit tersenyum di tengah derita dari para anak dan menantu wanita yang tidak sabar terhadap ibunya..bahkan setengah menyeret si ibu karena berjalan lambat ...
 Ya Allah semoga Engkau beri kami kesempatan berbakti pada orang tua kami dengan sebaik baik akhlaq yang kami punya.

Berikan kami anak anak sholeh dan sholehah yang ketika kami masih bersamanya, mereka meringankan kami dengan akhlaqnya.. dan ketika kami meninggalkan mereka, doa doa merekalah yang akan meringankan beban kami di akherat. Aamiin ya Rabb...

dari ODOJ

Tiada Daya Maka Berjaya

oleh Salim A. Fillah dalam Rajutan Makna.
02/07/2014


Maha Suci Dzat yang menjadikan;
Berhina padaNya sebagai kemuliaan
Berfaqir padaNya sebagai kekayaan
Tunduk padaNya sebagai keluhuran
Dan bersandar padaNya sebagai kecukupan..


Lelaki itu pergi dengan marah. Mari kita fahami betapa berat tugas dakwahnya di Ninawa, betapa telah habis sabarnya atas pembangkangan kaumnya. Malam dan siang, pagi dan petang; diajaknya mereka meninggalkan berhala-berhala tak bernyawa dan perbuatan-perbuatan tak bermakna. Didekatinya mereka satu-satu maupun dalam kumpulan, ketika sepi maupun di keramaian.

Tetapi hanya cemooh dan tertawaan, umpatan dan makian, serta penolakan dan pengusiran yang dia dapat. Maka dia, Yunus ibn Mata namanya, pergi dengan marah. Dia tinggalkan negerinya sembari mengancamkan ‘adzab Allah yang sebagaimana terjadi pada kaum-kaum sebelumnya, pasti turun pada kaum pendurhaka. Bukankah demikian nasib kaum Nuh, ‘Aad, Tsamud, dan penduduk negerinya Luth?

Tapi dia pergi karena ketaksabarannya, ketakteguhannya, dan ketaktelatenanannya. Dia pergi sebelum ada perintah Allah untuk menghentikan seruannya. Dia menyerah sebelum tiba waktunya. Maka sebagai hamba yang disayangiNya, Allah akan mendidiknya untuk sabar dengan cara lain, jika dia tak sabar dalam tugas dakwahnya. Cara itu adalah musibah.

Kita tahu ringkasnya, Yunus  yang menumpang sebuah kapal akhirnya dibuang ke samudra setelah 3 kali muncul namanya dalam undian. Kapal itu dalam badai yang bergulung mengerikan, maka ada yang berkeyakinan seseorang harus dipersembahkan pada penguasa lautan. Lagi pula, ia terasa kelebihan muatan. Awalnya, sang nakhoda tak tega. Yunus tampak sebagai orang baik. Tapi namanya muncul tiga kali, seakan memang hanya dialah yang dikehendaki.

Ketetapan Allah berlaku baginya. Seekor ikan membuka mulut menyambut tubuhnya yang terjun ke air. Bahkan, menurut sebagian mufassir, ikan yang menelannya dilahap ikan yang lebih besar, lalu dengan perut berisi ia menuju ke dasar lautan. Maka jadilah Yunus berada dalam gelap, dalam gelap, dalam gelap. Kelam berlapis-lapis.

                    *

Di antara hikmah yang selalu melekat pada setiap musibah adalah pertanyaan, “Apa kesalahanku sehingga cobaan ini menimpa?” Selanjutnya, memang kepekaan hatilah yang menentukan jawab dan tindakan yang akan diambil. Maka berbahagialah yang segera merundukkan diri di hadapan keagungan Allah, serta berlirih-lirih mengadukan kelemahan, kesilapan, dan kehinaan.

“Allah menciptakan manusia”, demikian Dr. ‘Abdul Karim Zaidan dalam Al Mustafaad min Qashashil Quran, “Dengan menggariskan baginya bahwa berbuat keliru dan jatuh dalam kesalahan adalah perkara yang mungkin, bahkan niscaya.” Tapi dengan kasihNya, Allah juga membukakan pintu agar dosa-dosa menjadi jalan kembali dan pelarian suci, tempat bersimpuh dan sandaran berteduh, mahligai yang syahdu bagi bermesra, meminta, dan beroleh karunia.

Maka demikianlah Yunus,‘Alaihis Salam. Di perut ikan Nun, dalam gelap yang mencekik hingga ke hati, dia menangisi kelemahannya, menekuri hari-harinya, dan mengaku telah berbuat aniaya.

“La ilaha illa Anta, subhanaKa, inni kuntu minazh zhalimin. Tiada Ilah sesembahan haq selain Engkau. Maha Suci Engkau; sungguh aku termasuk orang yang berbuat aniaya.”
(QS Al Anbiya’ [21]: 87)

Doa Yunus, betapa sederhana. Tapi indah dan mesra. Akrab dan hormat. Takzim dan syahdu. Demikianlah pada pinta para Nabi di dalam Al Quran, kita menemukan lafazh doa, ruh tauhid, sekaligus keindahan adab.

Hari ini, ketika kita disuguhi fahaman antah berantah bahwa doa harus dirinci-rinci, dibayang-bayangkan, dan dijerih-jerihkan; seakan dengan demikian ia lebih cepat dikabulkan, mari berkaca pada doa Yunus. Tak ada di sana pinta untuk mengeluarkannya dari perut ikan, apalagi desakan agar segera. Tak ada di sana rajuk-rajuk manja, hiba-hiba memelas, apalagi kalimat perintah yang pongah.

“Doa Dzun Nun,‘Alaihis Salam”, demikian menurut ibn Taimiyah, “Adalah di antara seagung-agung doa di dalam Al Quran.” Doa itu mengandung 2 hal saja, merunduk-runduk mengakui keagungan Allah, dan
berlirih-lirih mengadukan kelemahan diri.

“Berdoalah menyeru Rabbmu dengan tadharru’ (merendahkan diri) dan khufyah (memelankan suara). Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.”
(QS Al A’raaf [7]: 55)

Maka doa Yunus, yang tidak rinci, yang tidak dibayang-bayangkan, bahkan tak tergambar apa yang dipintanya, dijawab Allah dengan limpahan karunia yang membawa kejayaan. Dia hanya mengakui ketakberdayaan dan laku aniayanya pada diri sendiri; maka Allah yang Maha Kuat, Maha Gagah, Maha Perkasa, mengulurkan pertolonganNya, pembelaanNya, dan bantuanNya.

Yunus bukan hanya dikeluarkan dari perut ikan. Dia bahkan tak perlu payah berenang, karena diantar oleh sang ikan sampai tepian. Dan tempatnya didamparkan bukanlah sembarang daratan. Imam Ibnu Katsir mengetengahkan riwayat dalam tafsirnya dari Ka’b Al Ahbar dan Ibn ‘Abbas, bahwa Yunus dibaringkan di hamparan tanah yang kemudian ditumbuhi suatu tanaman dari jenis labu.

“Kemudian Kami lemparkan Yunus ke daratan kering, sedang dia dalam keadaan sakit. Kemudian untuknya Kami tumbuhkan pohon dari jenis yaqthin.”
(QS Ash Shaaffaat [37]: 145-146)

Selazimnya seseorang yang terkurung dalam gelap di kedalaman laut selama waktu yang panjang, maka Yunuspun sakit. “Keadaan beliau seumpama burung yang kehilangan seluruh bulunya”, ujar Ibn Mas’ud menafsir. Adapun menurut Ibn ‘Abbas, “Beliau bagaikan bayi yang baru dilahirkan; ringkih, tak terlindung, rumih, dan rentan.”

“Pohon yaqthin”, demikian masih menurut Ibn ‘Abbas, “Adalah qar’u, dari jenis labu yang tak disukai lalat dan serangga sehingga dia menaungi Yunus hingga terjaga.”

Ketika Yunus siuman, secara naluriah dia menggapai buah yang ada di dekatnya kemudian memakannya. Buah tanaman itu, yang mengandung air, gizi, dan zat-zat bermanfaat, amat mudah dicerna oleh tubuhnya. Khasiatnya menjalari seluruh pembuluh dan sendi, merasuki semua sumsum dan pori, memulihkan tenaga dan kesentausannya. Sakit, payah, dan terganggunya faal badan akibat berpuluh hari di dalam perut ikan dan di dasar lautan, kini pulih sehat dan bertambah afiat.

Nabi Yunus pun bugar kembali, bersemangat, dan berjanji pada Allah untuk nanti teguh, istiqamah, dan tak menyerah dalam berdakwah kepada kaumnya; apapun yang akan terjadi di hadapannya. Tetapi alangkah takjub penuh syukurnya dia. Sebab ketika kembali ke Ninawa, seluruh kaumnya justru telah beriman pada Allah. Jumlah mereka, lebih dari 100.000 orang kiranya.Betapa berkah doa Yunus. Bukan hanya menjadi karunia keselamatan dirinya, doa itu bahkan menjadi anugrah hidayah bagi begitu banyak manusia dari kaumnya. Dakwah Yunus berjaya, tepat pada saat dia merasa dan mengaku bahwa dirinya berdosa di hadapan Allah Yang Maha Kuasa. Dakwah Yunus berjaya, ketika dia mengakui dirinya aniaya dan hatinya tunduk memuliakan Allah‘Azza wa Jalla. Dakwah Yunus berjaya, ketika dia merasatak berdaya.

Di lapis-lapis keberkahan, berjayalah hamba yang merasa tak berdaya tanpaNya. Maka Maha Suci Dzat yang menjadikan berhina padaNya sebagai kemuliaan, berfaqir kepadaNya sebagai kekayaan, tunduk padaNya sebagai keluhuran, danbersandar padaNya sebagai kecukupan.

                    *

Kita menjawab panggilan adzan, ketika kita diseru untuk shalat dan dipanggil menuju kejayaan bukan dengan kepercayaan diri menggebu-gebu, bukan juga dengan keyakinan jiwa menderu-deru, bukan pula dengan rasa pasti mampu yang berseru-seru.

“Hayya ‘alash shalaah.. Marilah shalat!”, ajak Muadzin. Jawab kita bukan, “Siap! Bisa! Pasti bisa! Luar Biasa!”

“Hayya ‘alal falaah! Mari menuju keberhasilan, kemenangan, dan kejayaan!”, sambung muadzin. Dan jawab kita bukan pula, “Saya! Saya! Saya! Yeaaa!”

Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, setaqwa-taqwa manusia, setaat-taat hamba, dan sekuat-kuat pengabdi Rabbnya mengajarkan sebuah jawaban yang apa adanya tentang betapa lemahnya kita. Ungkapan paling jujur itu adalah, “La haula wa la quwwata illa billah. Tiada daya untuk menghindar dari keburukan dan tiada kekuatan untuk melaksanakan ketaatan, selain dengan pertolongan Allah, Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung.”

Ketika kaki melangkah
keluar dari rumah, maka tuntunan doa bagi kita ada dalam hadits shahih dari Anas ibn Malik yang terrekam dalam Sunan Abu Dawud (595) dan Sunan At Tirmidzi (3487). Bahwasanya Rasulullah bersabda,

“Jika seorang di antara kalian keluar dari rumahnya lalu mengucapkan: ‘Bismillahi Tawakkaltu ‘Alallahi La Haula WaLa Quwwata Illa Billah.. Dengan nama Allah. Aku bertawakal kepada Allah. Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan kuasa Allah’; maka pada saat itu akan dikatakan kepadanya, ‘Kamu telah mendapat petunjuk, telah diberi kecukupan, dan mendapat penjagaan’, hingga syaithan-syaithan menjauh darinya. Lalu syaithan yang lainnya berkata kepada syaithan yang ingin menggodanya; ‘Bagaimana kau akan mengoda seorang laki-laki yang telah mendapat petunjuk, kecukupan, dan penjagaan?”

“Dengan asma Allah”, adalah ikrar iman kita. Tak ada tempat bagi nama selainNya, bahkanpun nama kita, dalam berangkat maupun kembali, berjalan maupun berhenti, di kala pulang maupun pergi. Hanya namaNya yang layak diagungkan di setiap tapak dan langkah, berjalan dan berkendara, hatta hingga jatuh dan bangunnya. Semua dalam nama Allah, agar kita menghadapkan wajah padaNya dengan lurus dan berserah diri.

Selanjutnya, kita menginsyafi bahwa hanya Allah-lah sandaran terkuat, terkokoh, terhebat. Bukan diri, ilmu, ataupun hal-hal yang kita daku sebagai milik yang menjadi tempat bergantung. Bukan anak maupun pasangan, bukan kerabat maupun kawan, bukan rekan ataupun atasan. “Aku bertawakkal hanya kepada Allah”, adalah ikrar kepasrahan kita. Bahwa tiap tapak yang terayun serta tiap langkah yang terpijak ini, Allah-lah yang mengatur, mengarahkan, dan menepatkannya.

Dan akhirnya, “Tiada daya untuk menghindar dari maksiat dan keburukan, serta tiada kekuatan untuk menunaikan ketaatan dan meraih kebaikan; melainkan dengan kuasa dan pertolongan Allah.”

Inilah kealpaan kita yang mudah tergoda, maka hanya dari Allah pembentengannya. Inilah kerawanan kita yang dalam bahaya, maka hanya dari Allah perlindungannya. Inilah kemalasan kita yang sering tak hendak, maka hanya dari Allah semangat dan kemampuannya. Inilah kelembekan kita yang tak menjangkau, maka hanya dari Allah penggapaiannya.

Demikianlah, di lapis-lapis keberkahan, tiap helaan nafas, tiap detakan jantung, dan tiap denyutan nadi terjalani dengan asma Allah, dengan tawakkal pada Allah, dan dengan pengakuan bahwa tiada daya dan kekuatan kecuali dengan karunia Allah. Sebab kita mengerti, pengakuan atas ketakberdayaan di hadapan Yang Maha Jaya adalah sumber kekuatan yang tak pernah kering, tak pernah habis, dan tak pernah berakhir.


#LLK

Who Am I? / Aku Kie Sopo?


💕Kalimat Cinta Bagi Para Pecinta Al-Quran🎀

👆🏻 Cukuplah satu ayat yang terlupa dari hafalan yang ada sebagai teguran keras dari Allah pada diri seorang penghafal Al-Qur’an.

💌 Teringat akan perkataan ustadz bahwa Al-Qur’an itu suci dan hanya mau melekat di hati orang-orang yang suci (selalu berusaha menjaga kesucian diri dari dosa dan kesalahan).

📒 Al-Qur’an itu sensitif dan sangat cemburu ketika ia tak lagi jadi prioritas dan tidak dijaga dengan baik.

💾 Hafalan yang benar-benar lancar tanpa cacat akan sangat terasa nikmatnya ketika kegiatan muraja’ah atau mengulang hafalan.

❓❓Lalu bagaimana seandainya yang terlupa tidak hanya satu atau dua ayat, tapi satu atau dua juz bahkan lebih?
Seakan-akan hafalan tersebut hilang visualisasinya dalam memori saat lisan tak lagi bisa melantunkannya secara refleks.

💔 Cukuplah itu sebagai tanda bahwa ada yang salah dengan perilaku kita, ada yang salah dari manajemen waktu dan kesibukan, ada malam yang mungkin sering terlewatkan dari kegiatan menjaga Al-Qur’an, ada hati yang sering terlenakan, frekuensi muraja’ah dan tilawah yang tak berimbang, dan mungkin ada dosa dan kesalahan yang dilakukan.

📜 Evaluasi diri dan segera lakukan perbaikan bagaimanapun caranya agar Allah mengembalikan lagi kepercayaanNya pada diri kita.

🔐 Karena menghafal adalah sebuah proses perjuangan, ia tidak mungkin bisa diperjuangkan dengan ala kadarnya.
Kenapa berjuang itu manis? Karena ada niat yang harus senantiasa diluruskan dan diperbarui, ada pengorbanan yang harus terus dilakukan, juga ada cinta yang selalu meminta untuk dibuktikan.

🌨 Ya Allah jika nanti telah habis masa kami di dunia ini, ingin rasanya diri ini engkau panggil dalam kondisi husnul khatimah, dengan simpanan ayat-ayat Al-Qur’an yang sempurna, teramalkan, lagi terjaga dengan baik.

Allohumma Aamiin...

#Artikel dari ODOJ

Kebersihan Hati dan Ladang Pahala

1. Jika Kita Memelihara Kebencian/Dendam, maka
seluruh 'Waktu & Pikiran' yg kita miliki akan habis begitu saja & kita tidak akan pernah menjadi 'Orang Yang Produktif'.

2. Kekurangan Orang Lain adalah Ladang Pahala' bagi kita untuk :
» Memaafkannya,
» Mendoakannya,
» Memperbaikinya, dan
» Menjaga Aib-nya.

3. Bukan Gelar, Jabatan dan kekayaan yg menjadikan 'Orang Menjadi Mulia', Jika kualitas pribadi kita buruk, semua itu hanyalah 'Topeng Tanpa Wajah'.

4. Ciri Seseorang (Pemimpin ) itu " Baik' akan Tampak dari :
» Kematangan Pribadi,
» Buah Karya,
» serta Integrasi antara 'Kata & Perbuatan'-nya.

5. Jika Kita Belum bisa membagikan Harta atau membagikan Kekayaan, maka Bagikanlah 'Contoh Kebaikan' karena Hal itu akan 'Menjadi Tauladan'.

6. Jangan Pernah Menyuruh Orang lain utk Berbuat Baik, Sebelum Menyuruh Diri Sendiri',
Awali segala sesuatunya untuk kebaikan dari Diri Kita Sendiri.

7. Pastikan Kita sudah melakukan yg terbaik n  'Beramal' hari ini, Baik dengan :
» Materi,
» dengan Ilmu,
» dengan Tenaga,
» atau Minimal dgn
'Senyuman yg Tulus'...

8. Para Pembohong akan
'Dipenjara oleh Kebohongannya' sendiri.
Orang yg Jujur akan
'Menikmati Kemerdekaan' dalam Hidupnya.

9. Bila Memiliki 'Banyak Harta', maka Kita lah yg akan 'Menjaga Harta'.
Namun Jika Kita Memiliki 'Banyak Ilmu', maka Ilmu lah yg akan 'Menjaga Kita'.

10. Bila 'Hati Kita Bersih',
Tak ada Waktu untuk :
» Berpikir Licik,
» Curang,
» atau Dengki,
sekalipun terhadap Orang lain.

11. Bekerja Keras adalah 'Bagian Dari Fisik', Bekerja Cerdas merupakan 'Bagian Dari Otak', sedangkan Bekerja Ikhlas adalah
'Bagian Dari Hati'.

12. Jadikanlah setiap 'Kritik' bahkan 'Penghinaan' yg Kita Terima sebagai 'Jalan Untuk Memperbaiki Diri'.

13.Kita tdk pernah tahu Kapan 'Kematian' akan 'Menjemput Kita, tapi yg Kita Tahu  adalah kematian itu pasti datang n seberapa Banyak Bekal yg Kita Miliki untuk Menghadapinya..

Barokallaahu fiikum ajma'iin (semoga barokah Allah untukmu sekalian) ... 😊😊😃⛅


🌼🌼Do'a Pagi  ...🌼🌼

Yaa Rabb..

Hamba-Mu yang dhaif lagi hina ini datang menghadap-Mu, mengadukan segala keluh kesah, kelemahan dan kekurangan serta kealpaan dalam menjalankan sistem hidup yang Engkau ciptakan untuk kebahagiaan hidup kami di dunia dan akhirat.

Terimalah taubat kami,
Maafkan kesalahan kami,
Ampunilah dosa kami dan dosa kedua orang tua kami, limpahkan kasih sayang-Mu kepada mereka sebagaimana mereka menyayangi kami di waktu kecil.

Hindarkan kami dari godaan dunia dengan segala pernak perniknya.

Jadikanlah dunia dan segala fasilitasnya sebagai sarana dan jembatan kami menuju ridho dan syurgamu.

Kabulkanlah semua permintaan kami yang baik-baik. Sampaikanlah cita-cita kami yg baik-baik.

Satukanlah hati kami dalam ketaatan pada-Mu dan berdakwah di jalan-Mu.

Matikanlah kami dalam keadaan husnul khatimah sedangkan Engkau ridho pada kami.

Himpunkan kami di syurga Al-Firdaus al-A'la bersama Rasulullah tercinta, orang tua kami, anak cucu kami, istri-istri/suami-suami kami dan sahabat kami.

Aamiin yaa Mujibassaailin....

Doa dan Jawaban Allah SWT

Bunda Rusni Channel Post by Bunda Rusni, Bunda Vita dan mb Wulan. share yang bermanfaat demi mencari ridho ALLAH SWT

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

    Suatu hari

Aku meminta kepada Allah agar Allah mengangkat kesombongan dan keangkuhan yang ada padaku.

Allah menjawab :
“TIDAK.....!!
Kamulah yang harus merendahkan hatimu, bertindak melayani bagi sesamamu, maka kesombongan dan keangkuhanmu pun akan hilang.”

Aku meminta kepada Allah agar Allah memberikan kesabaran kepadaku.

Allah menjawab :
“TIDAK......!!
Kesabaran bukan suatu pemberian cuma cuma.
Kesabaran harus dilatih, kesabaran adalah hasil masa sulitmu, renungkan lah firman-KU dan lakukanlah, maka kesabaranmu akan bertambah.”

Aku meminta kepada Allah agar Allah mengangkat beban hidupku

Allah menjawab: :
“TIDAK......!!
Beban hidupmu menjauh kan kamu dari kesukaan duniawi dan membuat kamu tidak mengandalkan dirimu sendiri, melainkan AKU, sehingga membuat kamu lebih dekat kepada-KU.
Dan AKU akan senantiasa menemani kamu dimasa sulitmu, serta memampu kan kamu melewati masa sulitmu.”

Aku meminta agar Allah memberiku kebahagiaan.

Allah menjawab :
“TIDAK.......!!
AKU memberimu segala berkah, kebahagian tergantung penerimaan hatimu dalam mensyukurinya.”

Aku meminta agar Allah membuat kehidupan rohaniku bertumbuh.

Allah menjawab :
"TIDAK.......!!
Kehidupan Rohanimu, kamulah yang harus membuatnya bertumbuh, dengan semakin seringnya engkau bersekutu dengan-KU, AKU akan menyirami nya, sehingga akan membuahkan hasil yang baik.”

Aku meminta agar Allah menolongku untuk mengasihi sesama seperti Allah mengasihiku..

Allah menjawab :
“HambaKU.... Inilah permintaaan terbaikmu hari ini, lakukanlah.....!!
Kasihilah sesamamu, pasti AKU akan menolongmu”...

Perbanyaklah silaturrahim dengan saling menyayangi dan saling menasehati dalam kebaikan, maka Insya Allah akan memudahkan urusan kita.....!!
 Semoga kita diberi kemudahan utk selalu dpt berbuat kebajikan, bersilaturahim dengan niat lillahi ta'ala ...


Robbana Taqobbal Minna,
Yaa Allaah terimalah dari kami (amalan kami)..Aamiin🌺

Kisah Ka'ab bin Malik

Pada perang Tabuk, ada beberapa sahabat yang tidak berangkat berperang. Salah satu di antara mereka adalah Ka’ab bin Malik. Marilah kita dengarkan cerita Ka’ab yang menunjukkan kejujuran imannya, usai turunnya pengampunan Allah atas dosanya.

“Aku sama sekali tidak pernah absent mengikuti semua peperangan bersama Rasululah saw, kecuali dalam perang Tabuk. Perihal ketidakikutsertaanku dalam perang Tabuk itu adalah karena kelalaian diriku terhadap perhiasan dunia, ketika itu keadaan ekonomiku jauh lebih baik daripada hari-hari sebelumnya. Demi Allah, aku tidak pernah memiliki barang dagangan lebih dari dua muatan onta, akan tetapi pada waktu peperangan itu aku memikinya.
Sungguh, tidak pernah Rasullah saw. merencanakan suatu peperangan melainkan beliau merahasiakan hal itu, kecuali pada perang Tabuk ini. Peperangan ini, Rasulullah saw. lakukan dalam kondisi panas terik matahari gurun yang sangat menyengat, menempuh perjalanan nan teramat jauh, serta menghadapi lawan yang benar-benar besar dan tangguh. Jadi, rencananya jelas sekali bagi kaum muslimin untuk mempersiapkan diri masing-masing menuju suatu perjalanan dan peperangan yang jelas pula.

Rasulullah saw. mempersiapkan pasukan yang akan berangkat. Aku pun mempersiapkan diri untuk ikut serta, tiba-tiba timbul pikiran ingin membatalkannya, lalu aku berkata dalam hati, “Aku bisa melakukannya kalau aku mau!”
Akhirnya, aku terbawa oleh pikiranku yang ragu-ragu, hingga para pasukan kaum muslimin mulai meninggalkan Madinah. Aku lihat pasukan kaum muslimin mulai meninggalkan Madinah, maka timbul pikiranku untuk mengejar mereka, toh mereka belum jauh. Namun, aku tidak melakukannya, kemalasan menghampiri dan bahkan menguasai diriku.

Tampaknya aku ditakdirkan untuk tidak ikut Akan tetapi, sungguh aku merasakan penderitaan batin sejak Rasulullah saw. meninggalkan Madinah. Bila aku keluar rumah, maka di jalan-jalan aku merasakan keterkucilan diri sebab aku tidak melihat orang kecuali orang-orang yang diragukan keislamannya. Merekalah orang-orang yang sudah mendapatkan rukhshah atau ijinAllah Ta’ala untuk uzur atau kalau tidak demikian maka mereka adalah orang-orang munafik. Padahal, aku merasakan bahwa diriku tidak termasuk keduanya.

Konon, Rasulullah saw. tidak menyebut-nyebut namaku sampai ke Tabuk. Setibanya di sana, ketika beiau sedang duduk-duduk bersama sahabatnya, beliau bertanya, “Apa yang dilakukan Ka’ab bin Malik?”
Seorang dari Bani Salamah menjawab, “Ya Rasulullah, ia ujub pada keadaan dan dirinya!” Mu’az bin Jabal menyangkal, “Buruk benar ucapanmu itu! Demi Allah, ya Rasulullah, aku tidak pernah mengerti melainkan kebaikannya saja!”Rasulullahsaw. hanya terdiam saja.

Beberapa waktu setelah berlalu, aku mendengar Rasulllah saw. kembali dari kancah jihad Tabuk. Ada dalam pikiranku berbagai desakan dan dorongan untuk membawa alasan palsu ke hadapan Rasulullah saw., bagaimana caranya supaya tidak terkena marahnya? Aku minta pandapat dari beberapa orang keluargaku yang terkenal berpikiran baik. Akan tetapi, ketika aku mendengar Nabi saw., segera tiba di Madinah, lenyaplah semua pikiran jahat itu. Aku merasa yakin bahwa aku tidak akan pernah menyelamatkan diri dengan kebatilan itu sama sekali. Maka, aku bertekad bulat akan menemui Rasulullah saw. dan mengatakan dengan tidak sebenarnya.

Pagi-pagi, Rasulullah saw. memasuki kota Madinah. Sudah menjadi kebiasaan, kalau beliau kembali dari suatu perjalanan, pertama masuk ke masjid dan shalat dua rakaat. /Demikian pula usai dari Tabuk, selesai shalat beliau kemudian duduk melayani tamu-tamunya. Lantas, berdatanganlah orang-orang yang tidak ikut perang Tabuk dengan membawa alasan masing-masing diselingi sumpah palsu untuk menguatkan alasan mereka. Jumlah mereka kira-kira delapan puluhan orang. Rasulullah saw. menerima alasan lahir mereka; dan mereka pun memperbaharui baiat setia mereka. Beliau memohonkan ampunan bagi mereka dan menyerahkan soal batinnya kepada Allah. Tibalah giliranku, aku datang mengucapkan salam kepada beliau. Beliau membalas dengan senyuman pula, namun jelas terlihat bahwa senyuman beliau adalah senyuman yang memendam rasa marah. Beliau kemudian berkata, “Kemarilah!”

Aku pun menghampirinya, lalu duduk di hadapannya. Beliau tiba-tiba bertanya, “Wahai Ka’ab, mengapa dirimu tidak ikut? Bukankah kau telah menyatakan baiat kesetianmu?”
Aku menjawab, “Ya Rasulullah! Demi Allah. Kalau duduk di hadapan penduduk bumi yang lain, tentulah aku akan berhasil keluar dari amarah mereka dengan berbagai alasan dan dalil lainnya. Namun, demi Allah. Aku sadar kalau aku berbicara bohong kepadamu dan engkau pun menerima alasan kebohonganku, aku khawatir Allah akan membenciku. Kalau kini aku bicara jujur, kemudian karena itu engkau marah kepadaku, sesungguhnya aku berharap Allah akan mengampuni kealpaanku. Ya Rasululah saw., demi Allah, aku tidak punya uzur. Demi Allah, keadaan ekonomiku aku tidak pernah stabil disbanding tatkala aku mengikutimu itu!”
Rasulullah berkata, “Kalau begitu, tidak salah lagi. Kini, pergilah kau sehingga Allah menurunkan keputusan-Nya kepadamu!”

Aku pun pergi diikuti oleh orang-orang Bani Salamah. Mereka berkata kepada, “Demi Allah. Kami belum pernah melihatmu melakukan dosa sebelum ini. Kau tampaknya tidak mampu membuat-buat alasan seperti yang lain, padahal dosamu itu sudah terhapus oleh permohonan ampun Rasulullah!”
Mereka terus saja menyalahkan tindakanku itu hingga ingin rasanya aku kembali menghadap Rasullah saw. untuk membawa alasan palsu, sebagaimana orang lain melakukannya.
Aku bertanya kapada mereka, “Apakah ada orang yang senasib denganku?”
Mereka menjawab, “Ya! Ada dua orang yang jawabannya sama dengan apa yang kau perbuat. Sekarang mereka berdua juga mendapat keputusan yang sama dari Rasulullah sebagaimana keadaanmu sekarang!”

Aku bertanya lagi, “Siapakah mereka itu?”

Mereka menjawab, “Murarah bin Rabi’ah Al-Amiri dan Hilal bin Umayah Al-Waqifi.”
Mereka menyebutkan dua nama orang shalih yang pernah ikut dalam perang Badr dan yang patut diteladani. Begitu mereka menyebutkan dua nama orang itu, aku bergegas pergi menemui mereka.

Tak lama setelah itu, aku mendengar Rasululah melarang kaum muslimin berbicara dengan kami bertiga, di antara delapan puluhan orang yang tidak ikut dalam perang tersebut.
Kami mengucilkan diri dari masyarakat umum. Sikap mereka sudah lain kapada kami sehingga rasanya aku hidup di suatu negeri yang lain dari negeri yang aku kenal sebelumnya. Kedua rekanku itu mendekam di rumah masing-masing menangisi nasib dirinya, tetapi aku yang paling kuat dan tabah di antara mereka. Aku keluar untuk shalat jamaah dan kaluar masuk pasar meski tidak seorang pun yang mau berbicara denganku atau menanggapi bicaraku. Aku juga datang ke majilis Rasullah saw. sesudah beliau shalat. Aku mengucapkan salam kepada beliau, sembari hati kecilku bertanya-tanya memperhatikan bibir beliau, “Apakah beliau menggerakkan bibirnya menjawab salamku atau tidak?”
Aku juga shalat dekat sekali dengan beliau. Aku mencuri pandang melihat pandangan beliau. Kalau aku bangkit mau shalat, ia melihat kepadaku. Namun, apabila aku melihat kepadanya, ia palingkan mukanya cepat-cepat. Sikap dingin masyarakat kepadanya, ia palingkan mukanya cepat-cepat. Sikap dingin masyarakat kepadaku terasa lama sekali. Pada suatu hari, aku mengetuk pintu paga Abu Qaradah, saudara misanku dan ia adalah saudara yang paling aku cintai. Aku mengucapkan salam kepadanya, tetapi demi Allah, ia tidak menjawab salamku.
Aku menegurya, “Abu Qatadah! Aku mohon dengan nama Allah, apakah kau tau bahwa aku mencintai Allah dan Rasul-Nya?”

Ia diam. Aku mengulangi permohonanku itu, namun ia tetap terdiam. Aku mengulangi permohonanku itu, namun ia tetap terdiam. Aku mengulanginya sekali lagi, tapi ia hanya menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu!”
Air mataku tidak tertahankan lagi. Kemudian aku kembali dengan penuh rasa kecewa.
Pada suatu hari, aku berjalan-jalan ke pasar kota Madinag. Tiba-tiba datanglah orang awam dari negeri Syam. Orang itu biasanya mengantarkan dagangan pangan ke kota Madinah. Ia bertanya, “Siapakah yang mau menolongku menemui Ka’ab bin Malik?”

Orang-orang di pasar itu menunjuk kepdaku, lalu orang itu datang kepadaku dan menyerahkan sepucuk surat kepadaku dan menyerahkan sepucuk surat dari raja Ghassan. Setelah kubuka, isinya sebagai berikut, “… Selain dari itu, bahwa sahabatmu sudah bersikap dingin terhadapmu. Allah tidak menjadikan kau hidup terhina dan sirna. Maka, ikutlah dengan kami di Ghassan, kamu akan menghiburmu!”
Hatiku berkata ketika membaca surat itu, “Ini juga salah satu ujian!” Lalu aku memasukkan surat itu ke dalam tungku dan membakarnya.
Pada hari yang ke-40 dari pengasinganku di kampong halaman sendiri, ketika aku menanti-nantikan turunnya wahyu tiba-tiba datanglah kepadaku seorang pesuruh Rasulullah saw. menyampaikan pesannya, “Rasulullah memerintahkan kepadamu supaya kamu menjauhi istrimu!”

Aku semakin sedih, namun aku juga semakin pasrah kepada Allah, hingga terlontar pertanyaanku kepadanya, “Apakah aku harus menceraikannya atau apa yang akan kulakukan?”

Ia menjelaskan, “Tidak. Akan tetapi, kamu harus menjauhkan dirimu darinya dan menjauhkannya dari dirimu!”

Kiranya Rasulullah juga sudah mengirimkan pesannya kepada dua sahabatku yang bernasib sama. Aku langsung memerintahkan kepada istriku, “Pergilah kau kepada keluargamu sampai Allah memutuskan hukumnya kepada kita!”
Istri Hilal bin Umaiyah datang menghadap Rasulullah saw. lalu ia bertanya, “Ya Rasulullah, sebenarnya Hilal bin Umaiyah seorang yang sudah sangat tua, lagi pula ia tidak memiliki seorang pembantu. Apakah ada keberatan kalau aku melayaninya di rumah?”

Rasulullah saw. menjawab, “Tidak! Akan tetapi ia tidak boleh mendekatimu!”
Istri Hilal menjelaskan, “Ya Rasulullah! Ia sudah tidak bersemangat pada yang itu lagi. Demi Allah, yang dilakukannya hanya menangisi dosanya sejak saat itu hingga kini!”

Ada seorang familiku yang juga mengusulkan, “Coba minta izin kepada Rasulullah supaya istrimu melayai dirimu seperti halanya istri Hilal bin Umayah!”
Aku menjawab tegas, “Tidak Aku tidak akan minta izin kepada Rasulullah saw. tentang istriku. Apa katanya kelak, sedangkan aku masih muda?”
Akhirnya, hari-hari selanjutnya aku hidup seorang diri di rumah. Lengkaplah bilangan malam sejak orang-orang dicegah berbicara denganku menjadi 50 hari 50 malam. Pada waktu sedang shalat subuh di suatu pagi dari malam yang ke-50 ketika aku sedang dudung berdzkir minta ampun dan mohon dilepaskan dari kesempitan hidup dalam alam yang luas ini, tiba-tiba aku mendengar teriakan orang-orang memanggil namaku. ‘Wahai Ka’ab bin Malik, bergembiralah! Wahai Ka’ab bin Malik, bergembiralah!”

Mendengar berita itu aku langsung sujud memanjatkan syukur kepada Allah. Aku yakin pembebasan hukuman telah dikeluarkan. Aku yakin, Allah telah menurunkan ampunan-Nya.
Rasulullah menyampaikan berita itu kepada shahabat-shahabatnya seusai shalat shubuh bahwa Allah telah mengampuni aku dan dua orang shahabatku. Berlomba-lombalah orang mendatangi kami, hendak menceritakan berita germbira itu. Ada yang datang dengan berkuda, ada pula yang datang dengan berlari dari jauh mendahului yang berkuda. Sesudah keduanya sampai di hadapanku, aku berikan kepada dua orang itu kedua pakaian yang aku miliki. Demi Allah, saat itu aku tidak memiliki pakaian kecuali yang dua itu.
Aku mencari pinjaman pakaian untuk menghadap Rasullah. Ternyata aku telah disambut banyak orang dan dengan serta merta mereka mengucapkan selamat kepadaku. Demi Allah, tidak seorang pun dari muhajirin yang berdiri dan memberi ucapan selamat selain Thal’ah. Sikap Thalhah itu tak mungkin aku lupakan. Sesudah aku mengucapkan salam kepada Rasulullah, mukanya tampak cerah dan gembira, katanya kemudian, “Bergembiralah kau atas hari ini! Inilah hari yang paling baik bagimu sejak kau dilahirkan oleh ibumu!”
“Apakah dari Allah ataukah dari engkau ya Rasulullah?” tanyaku sabar.
“Bukan dariku! Pengampunan itu datangnya dari Allah!” jawab Rasul saw.
Demi Allah, aku belum pernah merasakan besarnya nikmat Allah kepadaku sesudah Dia memberi hidayah Islam kepadaku, lebih besar bagi jiwaku daripada sikap jujurku kepada Rasulullah saw.”
Ka’ab lalu membaca ayat pengampunannya itu dengan penuh haru dan syahdu, sementara air matanya berderai membasahi kedua pipinya.
“Dan terhadap tiga orang yang ditangguhkan (penerimaan taubat) mereka, hingga apabila bumi telah menjadi sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas, dan jiwa mereka pun telah sempit (pula terasa) oleh mereka, serta telah mengetahui bahwa tidak ada tempat lari dari (siksa) Allah melainkan kepada-Nya saja. Kemudian, Allah menerima taubat mereka agar mereka tetap dalam taubatnya. Sesungguhnya Allah-lah Yang Maha Menerima taubat lagi Maha Penyayang.” (At-Taubah:118)

Dengan Ikhlas Hidup Terasa Lepas

Oleh: Didi Junaedi


Kita tentu sering mendengar keluhan orang-orang di sekitar kita, atau mungkin diri kita sendiri, tentang beratnya menjalani kehidupan ini. Kondisi ekonomi yang sulit, harga-harga kebutuhan pokok yang melonjak tinggi seiring dengan kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM), biaya pendidikan dan kesehatan yang mahal, serta berbagai persoalan kehidupan lainnya yang semakin menambah penderitaan.

Ya, hidup memang terasa susah, jika kita menghadapinya dengan keluh kesah. Hidup pun akan terasa berat jika iman dalam diri ini tidak kuat. Hidup akan terasa sulit menghimpit jika cara pandang kita terhadap hidup ini terlalu sempit. Sebaliknya, hidup akan terasa mudah jika kita menjalaninya dengan penuh gairah. Hidup akan terasa nikmat jika iman dan ilmu kita kuat. Hidup akan terasa bebas dan lepas jika kita menghadapinya dengan ikhlas.

Ikhlas dalam menjalani hidup, dengan pengertian bahwa kita sadar sepenuhnya, ada yang Mahamengatur kehidupan ini, yaitu Allah Swt. Kita berhak untuk menyusun rencana sesuai dengan keinginan kita, tetapi jangan lupa, ada yang Mahamemutuskan, Mahamenentukan apakah rencana kita bisa berjalan dengan sukses ataukah tidak. Dialah yang Mahamengetahui yang terbaik untuk hamba-hamba-Nya, Dialah Allah Swt.

Mungkin dalam pandangan kita, rencana yang sudah kita susun secara matang adalah yang terbaik buat kita, dan pasti sukses. Tetapi, jika tidak ada ijin dari Yang Mahamenentukan, Mahamemutuskan, yakni Allah Swt, maka rencana yang sudah kita susun secara matang tersebut sangat mungkin gagal berantakan.

Apa yang kita anggap baik, belum tentu baik menurut Allah, bisa jadi itu sesuatu yang buruk bagi kita menurut Allah. Sebaliknya, apa yang kita anggap buruk, bisa jadi itu yang terbaik buat kita menurut Allah.


“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui”,  demikian diungkapkan dalam Q.S. Al-Baqarah: 216.

Dalam buku The Science & Miracle of Zona Ikhlas, Erbe Sentanu, sang penulis buku menguraikan secara apik sisi ilmiah sikap ikhlas disertai keajaiban-keajaiban yang melingkupi pelakunya.

Menurut Erbe Sentanu, sikap ikhlas akan membuat seseorang secara alami lebih powerful. Orang yang secara sadar atau tidak menjadikan ikhlas sebagai strategi hidupnya akan selalu diliputi kedamaian, kebahagiaan, kesuksesan dan kemuliaan. Hal ini terjadi, menurut Erbe Sentanu, karena ketika seseorang ikhlas berserah diri sesungguhnya ia sedang menyelaraskan pikiran dan perasaannya dengan kehendak Ilahi, yang menghasilkan kolaborasi niat yang luar biasa pada level kuantum di zona ikhlas. Saat itu terjadi, kemudahan dari Tuhan yang berupa keajaiban seringkali hadir dengan sendirinya.

Mengutip sejumlah penelitian ilmiah tentang dunia Quantum, yaitu sebuah ‘dunia’ yang tak berlokasi dan tak mengenal ruang dan waktu, Erbe Sentanu menyimpulkan bahwa zona ikhlas ada di dunia ini, yaitu dunia kuantum. Di zona yang tak berlokasi namun terpadu (unified) ini rasa keterpisahan dan perbedaan semakin tak kentara. Rasa mengalir ini membuat kita lebih inovatif, mudah mendapatkan solusi sekaligus merasakan kebahagiaan. Itulah mengapa, seseorang yang diliputi perasaan ikhlas dalam dirinya akan merasakan kehidupan yang damai, tenang dan bahagia. Lebih dari itu, seseorang yang selalu menjaga perasaan ikhlasnya akan mendapatkan keajaiban-keajaiban dalam hidupnya.

So, jalani hidup penuh keikhlasan, maka hidup akan terasa lepas dan membahagiakan.

Mengapa Membaca Al Quran Penting

Karena menurut survey yang dilakukan oleh dr.  Al Qadhi
di Klinik Besar Florida, Amerika Serikat,
berhasil membuktikan hanya dengan mendengarkan ayat suci  al Qur'an
baik bagi  yg mengerti bahasa Arab atau tidak,
ternyata memberikan perubahan fisiologis yang sangat besar.
Termasuk salah satunya menangkal berbagai macam penyakit.
Hal ini dikuatkan lagi oleh penemuan Muhammad Salim yang dipublikasikan Universitas Boston.

Lalu mengapa di dalam Islam ketika kita mengaji disarankan untuk bersuara ? Minimal untuk diri sendiri alias terdengar oleh telinga kita.

Berikut penjelasan logisnya :

✅Setiap sel di dalam tubuh kita bergetar di dalam sebuah sistem yang seksama,
dan perubahan sekecil apapun dalam getaran ini
akan menimbulkan potensi penyakit di berbagai bagian tubuh.
Nah sel2 yang rusak ini harus digetarkan kembali untuk mengembalikan keseimbangannya.
Hal ini artinya harus dengan suara.
Maka muncullah terapi suara.
Ditemukan oleh Alfred Tomatis seorang dokter di Prancis.

Sementara Dr. Al Qadhi menemukan bahwa
Memnbaca Al Qur'an dengan bersuara,
memberikan pengaruh yg luar biasa terhadap sel2 otak untuk mengembalikan keseimbangannya.


✅Penelitian berikutnya membuktikan sel kanker dapat hancur dengan menggunakan frekuensi suara saja.
Dan kembali terbukti bahwa membaca Al Qur'an memiliki dampak hebat dlam proses penyembuhan penyakit sekaliber kanker.


✅Virus dan kuman berhenti bergetar saat dibacakan ayat suci Al Qur'an
dan disaat yang sama , sel2 sehat menjadi aktif.
Mengembalikan keseimbangan program yang terganggu tadi.
QS Al Isra' : 82. Ayo buka ayatNYA👌🏽


Dan yang lebih menguatkan supaya diri ini makin getol baca Qur'an adlah karena menurut survey :
SUARA YANG PALING MEMILIKI PENGARUH KUAT TERHADAP SEL2 TUBUH
ADALAH SUARA SI PEMILIK TUBUH ITU SENDIRI !
QS 7  : 55, QS 17: 10 Ayo buka..👌🏽


Mengapa sholat berjamaah lebih di anjurkan ?
Karena ada doa yg dilantunkan dengan keras sehingga terdengar oleh telinga,
Dan ini bisa memgembalikan sistem yang seharian rusak.


Mengapa dalam Islam mendengarkan lagu hingar bingar tidak dianjurkan ?
Karena survey membuktikan bahwa getaran suara bisa MEMBUAT TUBUH TIDAK SEIMBANG

Maka kesimpulannya adalah :
1. Bacalah Al Qur'an di pagi hari dan malam hari sebelum tidur untuk mengembalikan sistem tubuh kembali normal.

2. Kurangi mendnegarkan musik hingar bingar, ganti saja dgn murotal yang jelas2 memberikan efek menyembuhkan.
Siapa tau kita punya potensi kena kanker, tapi karena rajin dengerin murotal, keburu hancur sebelum terdeteksi..

3. Benerin baca Qur'an , karena efek suara kita sendirilah yang paling dasyat dalam penyembuhan.

✍🏻Niatkan juga untuk me- ruqyah diri sendiri agar optimal proses tazkiyyahnya.

Semoga bermanfaat...😘😘

Jumat, 16 September 2016

Api Tauhid

Judul : Api Tauhid, Cahaya Keagungan Cinta Sang Mujaddid [Novel Sejarah Pembangun Jiwa]
Penulis : Habiburrahman El Shirazy
Penerbit : Republika
Jumlah Halaman : XXXV + 587

Novel ini Bunda pinjam dari teman kantor. Beliau meminjamkan novel ini, karena Bunda ke-gap sedang menulis fiksi di PC kantor (whatta bad attitude at the office anyway. he..he..). ok... Kita Mulai saja dengan ringkasan ceritanya.

Adalah Fahmi, sosok mahasiswa yang sedang menempuh pendidikan S2 nya di madinah. Saat ia berlibur di rumahnya di Lumajang, Jawa Timur, ia ditawari untuk melamar Nur Jannah, gadis shalihah anak pak Lurah. Orang tua Fahmi setuju, tapi Fahmi memilih istikharah. Selang beberapa pekan datang juga tawaran dari Kyai Arselan agar fahmi melamar Nuzula, putrinya. Fahmi akhirnya menikahi Nuzula. Pernikahan yang dilakukan aecara syriah saja, dan belum tercatat di catatan sipil. Karena Nuzula masih kuliah, dan ia ingin menyembunyikan identitasnya jika sudah menikah. Dan orang tua Nuzula pun membatasi Fahmi agar tidak bercampur dahulu dengan Nuzula. Setelah menikah, Fahmi pun melanjutkan studinya ke madinah, dan Nuzula pun melanjutkan kuliahnya di Jakarta.

Pada suatu hari. saat Fahmi di Madinah, ia mendapart surat dari Kyai Arselan yang isinya meminta Fahmi untuk menceraikan Nuzula. Fahmi tidak mengerti. Karena Kyai Arselan hanya mengatakan ini untuk kebaikan Fahmi dan Nuzula. Fahmi bingung. Dalam kekalutannya, ia memutuskan untuk melakukan 40 kalikhatam Qur'an tetapi melalui hafalan, bukan tilawah. Teman-teman kuliahnya meminta Fahmi menghentikan rutinitas ini, karena khawatir Fahmi kelelahan. Dan ternyata kekhawatiran mereka benar, Fahmi pun pingsan dan mimisan. Fahmi akhirnya dirawat di Rumah Sakit di Madinah. Setelah teman-temannya mengetahui duduk persoalan yang dialami fahmi, mereka berinisiatif megajak Fahmi berlibur. Mereka pun berlibur ke Turki, kampung halaman Hamza, sambil napak tilas perjuangan dakwah Ulama terkenal Badiuzzaman Said Nursi. 

Saat liburan tersebut, Fahmi berlibur bersama Hamza, Subki, Bilal, Aysel (sepupu Hamza) yang juga sedang berlibur, atau 'kabur' tepatnya ke Turki, dan Emel (adik hamza). Mereka berkeliling kota-kota Turki, ke tempat-tempat bersejarah. 

Aysel adalah sepupu dan saudara sepersusuan Hamza dan Emel. Pemilik Vila di Istambul. Ia dibesarkan secara Eropa, dan tinggal di London, Inggris. Ia terjerumus dalam pergaulan bebas dengan seorang pria bernama carlos. Carlos ternyata sindikat penjahat prostitusi. Ia berniat menjual Aysel untuk dijadikan prostitusi. Aysel berhasil kabur dari carlos, dan menuju Turki. 

Ternyata carlos dan dua orang temannya mencari Aysel ke Turki. Hingga tiba di Uludag, setelah mereka bermain ski, Carlos menyekap Aysel. Fahmi yang melihat kejadian itu mengejar carlos dan kawannya. Tetapi Fahmi kalah. Keduanya disekap ke dalam container. Fahmi disiksa oleh pengawal carlos. Pada akhirnya, Carlos ingin membawa Aysel  ke tempat trafficking, dan Fahmi akan dibunuh dengan cara melepaskan anjing buas. Tetapi atas kuasa Allah, melalui dzikir dan doa fahmi yang tidak putus, anjing buas itu malah jinak di hadapan Fahmi, dan berbalik menyerang Carlos dan dua pengawalnya. Akhirnya mereka berdua bebas. Fahmi dirawat di rumah sakit karena luka-lukanya. Dokter menyarankan amputasi, tetapi Fahmi bersikeras untuk mempertahankan kakinya, karena kaki itu yang selalu menemani ia shalat, dan melaksanakan aktivitas-aktivitas lain. Bujukan teman-temannya tidak cukup kuat untuk melemahkan keputusan Fahmi. 

Saat di rumah sakit itu, Subki berinisiatif mengajak Ali, teman sekampung Fahmi juga, dan Nuzula untuk datang ke rumah sakit. Akhirnya Fahmi bertemu lagi dengan Nuzula. Dan Nuzula mengisahkan hal yang sebenarnya mengapa Kyai Arselan memintanya menceraikan Nuzula. oenyebabnya adalah tadinya Nuzula tidak ingin menikah dengan Fahmi. ia sudah berpacaran di jakarta. Ia berbohong pada ayahnya bahwa ia sudah hamil dengan pacarnya, agar Nuzula bisa menikah dengan pacarnya dan berpisah dengan Fahmi. Tapi ternyata pacar Nuzula adalah orang yang tidak baik. Nuzula pernah hampir diperkosa, namun bisa selamat. Akhirnya Fahmi menerima Nuzula lagi. Mereka pun menikah secara resmi (Undang-Undang catatan kependudukan di KJRI). 

Selama libura berkeliling kota di Turki, Hamza menceritakan dengan detail sepak terjang perjuangan ulama terkenal Badiuzzaman Said Nursi. Dari masa kecilnya yang sudah terlihat paling menonjol di antara saudara-saudara yang lain, masa remaja yang cerdas, dalam usia 15 tahun sudah hafal 80 kitab ulama terkenal, dan dikisahkan juga jihad ulama tersebut saat Khalifah Utsmani jatuh ke tangan sekuler Kemal Ataturk, serta perjuangan dalam perang dunia ke-2. Juga dikisahkan bagaimana penjara tidak membuat Ust. Said Nursi berhenti berdakwah. Walau dipenjara dengan kondisi yang sangat tidak manusiawi. Di buku ini hamza tidak menceritakan akhir hidup Ust Said Nursi, karena ia kerap larut dalam kesedihan saat berkisahmengenai meninggalnya Ust. Said Nursi. 

Nah, sekarang kita bahas ya...

Genre novel ini adalah romance. Tetapi Kang Abik juga ingin menyajikan sejarah Ulama yang mahsyur di Turki, ust. Badiuzzaman Said Nursi. Latar tempat yang disajikan Kang Abik cukup memberikan gambaran pad apembaca yang belum pernah mengunjungi Turki (seperti Bunda ini lho... he..he..). Alur cerita juga dibuat mengalir. Novel ini unik, karena membingkai cerita dalam cerita. Jadi membaca novel ini kita seperti mendapat dua kisah sekaligus. Kisah fahmi, dan biografi Badiuzzaman Said Nursi.

Kalau  pendapat Bunda pribadi sih.... aduh, maaf ih Kang Abik. Kang Abik ini sepertinya kebanyakan ide cerita, dan mencoba menuangkannya ke dalam satu fiksi. Padahal, semua kisah, baik fahmi maupun biografi Badiuzzaman Said Nursi, semuanya memiliki tema yang tajam yang bisa ditonjolkan.

Bunda berfikir, andaikan cerita ini dijadikan dua novel terpisah, yaitu :
1. Novel romance yang bercerita tentang Fahmi dan Nuzula. Mengangkat tema yang paradoks, anak Kyai yang terlibat pacaran di tengah kota, lalu dijodohkan dengan Fahmi. Dan konflik diperkaya dengan hadirnya juga kisa Aysel, yang juga merupakan suatu paradoks, dimana umat muslim pun, apabila salah cara mendidik, bisa terjerumus pada pergaulan bebas seperti yang dialami Aysel di London.
2. Novel Fiksi sejarah Badiuzzaman Said Nursi. kang Abik sangat kaya dengan data-data sejarah. Risetnya Masya Allah, detail hingga ke tahun kejadian sejarahnya. Ini adalah modal besar untuk Kang Abik membuat fiksi sejarah macam The Road to The Empire nya Bu Sinta Yudisia.

Overall, Alhamdulillah Bunda sudah membaca fiksi ini. Memperkaya pengetahuan Bunda, terutama mengenai Ottoman Turki dan bagaimana awal sekulerisme di Turki dimulai. Jazakallah Kang Abik yang sudah berpayah menuliskan novel ini untuk dinikmati pembaca muslim di tanah air.



Kamis, 01 September 2016

Panglima Perang Yang Dipecat Karena Tidak Pernah Berbuat Kesalahan

Pada zaman pemerintahan Khalifah Syaidina Umar bin Khatab, ada seorang panglima perang yang disegani lawan dan dicintai kawan. Panglima perang yang tak pernah kalah sepanjang karirnya memimpin tentara di medan perang. Baik pada saat beliau masih menjadi panglima Quraish, maupun setelah beliau masuk Islam dan menjadi panglima perang umat muslim. Beliau adalah Jenderal Khalid bin Walid.

Namanya harum dimana-mana. Semua orang memujinya dan mengelu-elukannya. Kemana beliau pergi selalu disambut dengan teriakan, "Hidup Khalid, hidup Jenderal, hidup Panglima Perang, hidup Pedang Allah yang Terhunus." Ya! .. beliau mendapat gelar langsung dari Rasulullah SAW yang menyebutnya sebagai Pedang Allah yang Terhunus.

Dalam suatu peperangan beliau pernah mengalahkan pasukan tentara Byzantium dengan jumlah pasukan 240.000. Padahal pasukan muslim yang dipimpinnya saat itu hanya berjumlah 46.000 orang. Dengan kejeliannya mengatur strategi, pertempuran itu bisa dimenangkannya dengan mudah. Pasukan musuh lari terbirit-birit.

Itulah Khalid bin Walid, beliau bahkan tak gentar sedikitpun menghadapi lawan yang jauh lebih banyak.

Ada satu kisah menarik dari Khalid bin Walid. Dia memang sangat sempurna di bidangnya; ahli siasat perang, mahir segala senjata, piawai dalam berkuda, dan karismatik di tengah prajuritnya. Dia juga tidak sombong dan lapang dada walaupun dia berada dalam puncak popularitas.

Pada suatu ketika, di saat beliau sedang berada di garis depan, memimpin peperangan, tiba-tiba datang seorang utusan dari Amirul mukminin, Syaidina Umar bin Khatab, yang mengantarkan sebuah surat. Di dalam surat tersebut tertulis pesan singkat, "Dengan ini saya nyatakan Jenderal Khalid bin Walid di pecat sebagai panglima perang. Segera menghadap!"

Menerima khabar tersebut tentu saja sang jenderal sangat gusar hingga tak bisa tidur. Beliau terus-menerus memikirkan alasan pemecatannya. Kesalahan apa yang telah saya lakukan? Kira-kira begitulah yang berkecamuk di dalam pikiran beliau kala itu.

Sebagai prajurit yang baik, taat pada atasan, beliaupun segera bersiap menghadap Khalifah Umar Bin Khatab. Sebelum berangkat beliau menyerahkan komando perang kepada penggantinya.

Sesampai di depan Umar beliau memberikan salam, "Assalamualaikum ya Amirul mukminin! Langsung saja! Saya menerima surat pemecatan. Apa betul saya di pecat?"

"Waalaikumsalam warahmatullah! Betul Khalid!" Jawab Khalifah.

"Kalau masalah dipecat itu hak Anda sebagai pemimpin. Tapi, kalau boleh tahu, kesalahan saya apa?"

"Kamu tidak punya kesalahan."

"Kalau tidak punya kesalahan kenapa saya dipecat? Apa saya tak mampu menjadi panglima?"

"Pada zaman ini kamu adalah panglima terbaik."

"Lalu kenapa saya dipecat?" tanya Jenderal Khalid yang tak bisa menahan rasa penasarannya.

Dengan tenang Khalifah Umar bin Khatab menjawab, "Khalid, engkau jenderal terbaik, panglima perang terhebat. Ratusan peperangan telah kau pimpin, dan tak pernah satu kalipun kalah. Setiap hari Masyarakat dan prajurit selalu menyanjungmu. Tak pernah saya mendengar orang menjelek-jelekkan. Tapi, ingat Khalid, kau juga adalah manusia biasa. Terlalu banyak orang yang memuji bukan tidak mungkin akan timbul rasa sombong dalam hatimu. Sedangkan Allah sangat membenci orang yang memiliki rasa sombong''.

''Seberat debu rasa sombong di dalam hati maka neraka jahanamlah tempatmu. Karena itu, maafkan aku wahai saudaraku, untuk menjagamu terpaksa saat ini kau saya pecat. Supaya engkau tahu, jangankan di hadapan Allah, di depan Umar saja kau tak bisa berbuat apa-apa!"

Mendengar jawaban itu, Jenderal Khalid tertegun, bergetar, dan goyah. Dan dengan segenap kekuatan yang ada beliau langsung mendekap Khalifah Umar.

Sambil menangis beliau berbisik, "Terima kasih ya Khalifah. Engkau saudaraku!"

Bayangkan …. mengucapkan terima kasih setelah dipecat, padahal beliau tak berbuat kesalahan apapun. Adakah pejabat penting saat ini yang mampu berlaku mulia seperti itu? Yang banyak terjadi justru melakukan perlawanan, mempertahankan jabatan mati-matian, mencari dukungan, mencari teman, mencari pembenaran, atau mencari kesalahan orang lain supaya kesalahannya tertutupi.

Jangankan dipecat dari jabatan yang sangat bergengsi, 'kegagalan' atau keterhambatan dalam perjalanan karir pun seringkali tidak bisa diterima dengan lapang dada. Akhirnya semua disalahkan, sistem disalahkan, orang lain disalahkan, semua digugat.....bahkan hingga yang paling ekstrim.... Tuhan pun digugat..

Kembali ke Khalid bin Walid, hebatnya lagi, setelah dipecat beliau balik lagi ke medan perang. Tapi, tidak lagi sebagai panglima perang. Beliau bertempur sebagai prajurit biasa, sebagai bawahan, dipimpin oleh mantan bawahannya kemarin.

Beberapa orang prajurit terheran-heran melihat mantan panglima yang gagah berani tersebut masih mau ikut ambil bagian dalam peperangan. Padahal sudah dipecat. Lalu, ada diantara mereka yang bertanya, "Ya Jenderal, mengapa Anda masih mau berperang? Padahal Anda sudah dipecat."

Dengan tenang Khalid bin Walid menjawab, "Saya berperang bukan karena jabatan, popularitas, bukan juga karena Khalifah Umar. Saya berperang semata-mata karena mencari keridhaan Allah."

***
Sebuah cuplikan kisah yang sangat indah dari seorang Jenderal, panglima perang, ''Pedang Allah yang Terhunus''.

Mari Memerdekakan Diri

Sahabat Odojers yang senantiasa istiqomah ...
jauh sudah masa sulit itu berlalu,
direnggut waktu yang terus mengukir kisah baru,
masa ketika banyak darah mengalir,
banyak nyawa dipertaruhkan,
demi Indonesia tercinta.

Tak terasa ... 71 tahun berlalu,
mari sejenak kita berkaca diri!
Para mujahid/mujahidah bangsa ini telah menuntaskan tugas mulia merebut kemerdekaan.

Lalu,
apakah diri kita sudah merdeka?
Merdeka dari hawa nafsu,
kemalasan, membuang-buang waktu, dan dari mengerjakan hal yang sia-sia ...

Apakah diri kita sudah istiqomah?
Sehari satu juz saja terkadang terasa sulit, bahkan seringkali lalai.

Kenapa mengeluh tentang kesulitan?
Di dalam hidup ini,
kita pasti menghadapi kesulitan.
Semua orang menghadapinya.
Disiplin, sabar, tekun, dan komitmen memang sulit,
namun diperlukan untuk hidup yang lebih baik.

Jangan mengeluh sulit sahabatku!
Ayo, tingkatkan kualitas diri agar kita sanggup melaluinya!
Mari, tanamkan niat yang kuat dalam hati kita,
agar dapat merdeka dari belenggu setan!

Merdeka Negeriku!
Merdeka Bangsaku!
Merdeka Indonesiaku!
Merdeka bersama Al Qur'an!
Mari, memerdekakan diri!

# mengenang hari kemerdekaan RI
(17-8-1945 ... 17-8-2016)
#1day1juz/odoj/lovequr'an

Salam FULL Semangat...!!!

Santi Hidayani Sitorus
Divisi Training Motivasi
Cp. 081364942465

PSDM/TM/144/23/08/2016

Maafmu Menjadi Penyebab Aku dan Kamu Masuk Surga

Pada suatu hari, Rasulullah SAW sedang berkumpul dengan para sahabatnya. Di tengah para sahabatnya, tiba-tiba Rasulullah saw. tertawa ringan sampai-sampai terlihat gigi depannya. Umar r.a. yang berada di di situ, berkata, ‘Demi engkau, ayah dan ibuku sebagai tebusannya, apa yang membuatmu tertawa, wahai Rasulullah?’

Rasulullah SAW menjawab, ‘Aku diberitahu bahwa pada hari kiamat nanti, ada dua orang yang duduk bersimpuh sambil menundukkan kepala mereka di hadapan Allah. Salah satunya mengadu kepada Allah sambil berkata, ‘Ya Rabb, ambilkan kebaikan dari orang ini untukku karena dulu ia pernah berbuat zalim kepadaku’.
Allah SWT berkata, ‘Bagaimana mungkin saudaramu ini bisa melakukan itu, karena tidak ada kebaikan di dalam dirinya?’

Orang itu berkata, ‘Ya Rabb, kalau begitu, biarlah dosa-dosaku dipikul olehnya’.
Sampai di sini, mata Rasulullah SAW berkaca-kaca. Beliau Rasulullah SAW tidak mampu menahan tetesan airmatanya. Beliau menangis. Lalu, beliau Rasulullah berkata, ‘Hari itu adalah hari yang begitu mencekam, di mana setiap manusia ingin agar ada orang lain yang memikul dosa-dosanya’.
Rasulullah SAW  melanjutkan kisahnya.

Lalu Allah berkata kepada orang yang mengadu tadi, ‘Angkat kepalamu..!!' Orang itu mengangkat kepalanya, lalu ia berkata, ‘Ya Rabb, aku melihat di depanku ada tempat yang terbuat dari emas dan istana-istana yang terbuat dari emas dan perak bertatahkan intan permata. Istana-istana itu untuk Nabi yang mana, ya Rabb? Untuk orang jujur yang mana, ya Rabb? Untuk syahid yang mana, ya Rabb?’
Allah berkata, ‘Istana-istana itu diberikan kepada orang yang mampu membayar harganya’.

Orang itu berkata, ‘Siapakah yang bakal mampu membayar harganya, ya Rabb?’
Allah berkata, ‘Engkau mampu membayar harganya’
Orang itu terheran-heran, sambil berkata, ‘Dengan cara apa aku membayarnya, ya Rabb?’

Allah berkata...
 ‘Caranya engkau maafkan saudaramu yang duduk di sebelahmu, yang kau adukan kezalimannya kepada-Ku’.

Orang itu berkata, ‘Ya Rabb, kini aku memaafkannya’

Allah berkata..
 'Kalau begitu, ambil tangan saudaramu itu, dan ajak ia masuk surga bersamamu’.

Setelah menceritakan kisah itu, Rasulullah saw. berkata, ‘Bertakwalah kalian kepada Allah dan hendaknya kalian saling berdamai, sesungguhnya Allah mendamaikan persoalan yang terjadi di antara kaum muslimin’.

Kisah di atas terdapat dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam al-Hakim, dengan sanad yang shahih.

Pekerjaan hati yg nilainya tinggi di hadapan Allah adalah minta maaf, memberi maaf, dan saling memaafkan.

Semoga lelah kita semua menjadi Manfaat dihari perhitungan....Aamiin yra 🙏🙏

Fenomena Akhir Zaman

● Banyak rumah semakin besar, tapi keluarganya semakin kecil.

● Gelar semakin tinggi, akal sehat semakin rendah

● Pengobatan semakin canggih, kesehatan semakin buruk.

● Travelling keliling dunia, tapi tidak kenal dengan tetangga sendiri.

● Penghasilan semakin meningkat, ketenteraman jiwa semakin berkurang.

● Kualitas Ilmu semakin tinggi, kualitas emosi semakin rendah.

● Jumlah Manusia semakin banyak, rasa kemanusiaan semakin menipis.

● Pengetahuan semakin bagus, kearifan semakin berkurang.

● Perselingkuhan semakin marak, kesetiaan semakin punah.

● Semakin banyak teman di dunia maya, tapi tidak punya sahabat yang sejati.

● Minuman semakin banyak jenisnya, air bersih semakin berkurang jumlahnya.

● Pakai jam tangan mahal, tapi tak pernah tepat waktu.

● Ilmu semakin tersebar, adab dan akhlak semakin lenyap

● Belajar semakin mudah, guru semakin tidak dihargai

● Teknologi Informasi semakin canggih, fitnah dan aib semakin tersebar.

● Orang yang rendah ilmu banyak bicara, orang yang tinggi ilmu banyak terdiam.

● Tontonan semakin banyak, tuntunan semakin berkurang...

Tak Pernah Surut Aku Melangkah

Oleh: Rochma Yulika


Dakwah itu energi dahsyat dalam hidupku.
Dengan dakwah aku belajar bagaimana pantang menyerah. Dengan dakwah aku berusaha untuk tak mudah berkeluh kesah. Dan dengan dakwah memacu diri untuk istiqamah hingga mampu meraih syahadah.

Di jalan dakwah aku memahami benar seperti apa Allah memberikan kasih sayang Nya tiada berbatas bagi hamba-hamba yang ikhlas.
Aku pun bersyukur bisa berada di barisan ini.

Meski keadaan diri yang sangat terbatas namun tak urungkan niat untuk berusaha menjadikan diri pantas berada di antara para pejuang yang tak kenal lelah.

Apalah artinya rasa sakit bila surga itu sangat manis dan indah.
Banyak hal yang menginspirasi hidupku ketika menapaktilasi kisah para pendahulu yang berjuang hingga berdarah-darah untuk memperjuangkan panji-panji Islam.

Mereka merelakan apa saja yang dimilikinya untuk dihibahkan sebagai modal tegaknya sebuah peradaban.
Bila bukan karena iman, langkah-langkah ini tiada kekuatan. Semangat tak lagi mampu dikobarkan.
Dan jiwa melemah pun tak terelakkan.
Menjaga iman agar perjalanan hadirkan banyak kebermaknaan.

Belajar dari banyak kisah salafusshalihlah yang mampu menguatkan langkah ini.
Meski kadang langkah tinggal satu-satu.
Bahkan tubuh mulai melayu.

Namun dakwah mampu menjadi sumber kekuatan untuk menjadi bagian dari orang-orang beriman.
Saat ini yang aku tahu, bahwa perjuangan ini tak bisa dihentikan dengan keterbatasan yang aku miliki.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah yang berkata, "Aku, Surga dan tamanku ada di dalam dadaku, kemana pun aku pergi ia selalu bersamaku, tidak meninggalkanku. Jika aku dipenjara, bagiku itu adalah khalwah. Jika aku dibunuh, bagiku itu adalah syahadah. Dan jika aku diusir dari negeriku, bagiku itu adalah siyahah (jalan-jalan).

Menyadari dan merenungi bahwa setiap ujian yang bertandang itu selayaknya tamu, ia akan datang namun tak lama pun jua akan segera berlalu. Insya Allah.


◇◇•◇◇•◇◇•◇◇•◇◇•◇◇
AIHQ - DK PSDM ODOJ
AIHQ/165/25/06/2016
oaseodoj@gmail.com

Quran as Part of Your Life


Rezeki Seluruh Makhluk Sudah Dijamin oleh Allah SWT

Rezeki merupakan salah satu rahasia Allah. Ia tidak bisa dikalkulasi dengaan nalar manusia. Seringkali ia bergerak diluar jangkauan nalar. Itulah yang disebut dengan rezeki tidak disangka-sangka. Al Quran mengatakan “Wayarzughu min haitsu laa yahtasib “ (Ath-Thalaq ( 65 ) : 3). Allah telah menjamin rezeki setiap makhluk-Nya. Setiap manusia yang terlahir ke dunia sudah dilengkapi dengan rezekinya masing-masing. Rasul SAW bersabda, “Allah telah menetapkan takdir semua mahluk sejak 50.000 tahun sebelum Dia menciptakan langit dan bumi“ (HR.Muslim). Oleh karena itu selayaknyalah kita tidak perlu cemas mengenai rezeki Allah SWT. Sebab Sang Pemberi Rezeki telah menjamin, “Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya. Dan Dia meengetahui tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)” (Hud 6). “Persoalan rezeki sudah diatur oleh Allah SWT. Hal penting yang perlu dilakukan adalah sempurnakan ikhtiar, perkuat dengan doa, dan tawakal secara total kepada Allah. Biarlah Allah yang Maha Mengatur. Insya Allah, jika ikhtiar, doa serta tawakal kita total, kita akan diberikan kelapangan rezeki oleh Allah. Allah akan mengaruniakan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.

Dari Umar bin Khattab RA, ia berkata, “Saya mendengar Rassulullah SAW bersabda, ‘Jika kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya, niscaya Allah akan memberikan rezeki kepada kalian seperti seekor burung, pagi-pagi ia keluar dari sarangnya dalam keadaan lapar dan pulang disore hari dalam keadaan kenyang “ (HR.Ahmad dan Turmuzi).

Banyak kiat untuk menjemput atau membuka keran pintu rezeki itu. Diantaranya adalah :

Pertama, Memperbanyak istighfar dan taubat.
Allah berfirman, “Mohonlah ampunan kepada Tuhanmu. Sungguh, Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu. Dan Dia memperbanyak harta dan anak-anakmu, mengadakan kebun-kebun untukmu, dan mengadakan sungai-sungai “ (Nuh (71) :10-12). Ujar Ibnu Katsir, “Maksudnya, jika kalian telah bertaubat dan beristighfar kepada Allah serta taat kepada-Nya, Dia pasti memperbanyak rezeki kalian dan memberi minum kalian dengan berkah dari langit serta menumbuhkan dan mengalirkan susu binatang ternak serta akan memberikan harta yang banyak, dan anak yang banyak.Lalu Allah akan menjadikaan bagi kalian kebun-kebun yang didalamnya beraneka ragam buah-buahan, yang mengalir di sisinya sungai-sungai“ (Ibnu Katsir Jilid 4 halaman 371).

Kedua, Istiqamah Bersedekah /Berinfak di jalan Allah.
Rasul SAW bersabda, “Bersedekahlah kalian, dan jangan (terlalu) lama disimpan dan ditahan. Sebab jika demikian, Allah SWT akan menahan (karunia-Nya) untukmu “ (HR. Bukhari ). Hadis lain, Nabi SAW bersabda “Berinfaklah semampumu, dan jangan menahan hartamu, niscaya Allah akan menahan karunia-Nya bagimu“ (HR. Muslim dan Nasai). Kilah Imam Al-Qurthubi, “Jika seseorang meyakini Allah sepenuhnya, pasti Dia akan memberikan rezeki kepadanya dengan tanpa disangka-sangka. Seyogianya ia mesti berinfak secara ikhlas dan tanpa banyak pertimbangan. “

Ketiga, Meluangkan waktu untuk Beribadah.
Rasul SAW bersabda, ”Allah berfirman ‘Wahai Bani Adam, fokuskanlah hati kalian dalam beribadah kepada-Ku, niscaya Aku akan lapangkan hatimu, dan Aku penuhi kebutuhanmu. Kalau kamu tidak memfokuskan ibadah kepada-Ku, maka Aku akan penuhi hatimu dengan kesibukan dan kebutuhanmu tidak akan Aku penuhi “ (Hadis qudsi riwayat Ahmad,Tirmidzi, Ibnu Majah dan Al Hakim). Secara umum hadis tersebut menurut imam Al’Ala’i menjelaskan bahwa hati seseorang jangan terlena dengan kesibukan dunia, hingga ia tidak menunaikan bentuk ketaatan kepada Allah. Dalam menafsirkan firman Allah surah Al Insyirah ayat 7, Ibnu Katsir menuturkan, “Jika kalian telah selesai melakukan pekerjaan-pekerjaan duniawi, bersungguh-sungguhlah menunaikan ibadah dengan tekun. Lalu fokuskan hatimu dan ikhlaskan niatmu.” Jadi dapat disimpulkan bahwa dengan meluangkan waktu dan memfokuskan diri untuk beribadah kepada Allah dapat membukakan pintu rezeki.

Keempat, Bersegera Mencari Rezeki di Pagi hari.
Rasulullah SAW berdoa, “Ya Allah, berkahilah umatku di waktu pagi. Semoga keberkahan selalu tercurah bagi umatku yang beraktifitas di pagi hari “ (HR.Thabrani). “Shahr Al-Ghamidi menjelaskan, bahwa Rasulullah mengutus pasukan perang di akhir waktu siang. Sementara itu Shahr sebagai seorang pedagang, sering membawa barang dagangannya di pagi hari. Akhirnya ia sering mendapatkan keuntungan yang berlimpah, hingga hartanya banyak. (HR. Imam yang empat).

Kelima, Bersilaturrahim. Rasul SAW bersabda, “Siapa yang ingin diluaskan rezekinya, dan dipanjangkan umurnya,maka sambunglah tali silaturrahim “ (HR.Bukhari, Muslim, Abu Daud dan Nasai). Dalam hadis qudsi Allah berfirman, “Siapa yang menyambung silaturrahmi, maka akan Aku sambung rahmat-Ku untuknya. Dan siapa yang memutuskan silaturrahmi, maka Aku putuskan pula rahmat-Ku untuknya “ (HR. Tirmuzi dan Abu Daud). Rahmat Allah itu bentuknya beraneka ragam, dan jumlahnya tidak terhitung. Ia bisa berupa kemudahaan dalam segala urusan, ketenangan dalam menjalani hidup, kesehatan jasmani dan rohani, keluasan rezeki dan sebagainya.

Keenam, Senantiasa bersyukur. Allah berfirman “ … Jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepada kalian, dan jika kalian mengingkari (nikmat-Ku) maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih “ (Ibrahim 7). Imam Al Mansyur berkomentar “Wahai manusia, jangan sekali-kali kalian mengusir kenikmatan rezeki dengan meninggalkan syukur. Sebab, dengan meninggalkan syukur, justru kalian tengah mengundang bencana. “ Syukur adalah satu keniscayaan atas begitu banyaknya nikmat yang kita rasakan dalam hidup ini.Salah satu hal yang harus kita syukuri adalah rezeki pemberian Allah. Cara mensyukurinya adalah dengan “mengalirkannya“ kepada orang yang membutuhkan. Ibarat air, jika tidak dialirkan akan tersumbat. Demikian pula dengan rezeki, jika tidak dialirkan, saluran rezeki akan tersumbat. Wallahualam. **

Persaudaraan Imani

Copas dari Ustad Muh.S.Drehem. Bismillah...
Allahumma sholli 'ala sayyidina Muhammad wa aalihi wa shohbih...

Renungan Jelang dhuha,
23 DZULQA'DAH 1437.
QS: THAHA: 29-35.

INILAH PERSAUDARAAN IMANI...!

Ikhwah fillah,
Kita dikatakan bersaudara kalau :
1. Kita sll tanya keadaannya...
2. Kita berbahagia dengan kebahagiaannya dalam kebaikan...
3. Kita ikut bersedih dengan kesedihannya dalam kebaikan...
4. Kita sebut-sebut kebaikannya...
5. Kita tutup keburukannya tanpa membenarkan dosanya...
6. Kita bela nama baiknya dalam kebenaran...
7. Kita bantu dia dalam menyelesaikan kesulitannya...
8. Kita nasihati setiap kali ia bersalah...
9. Kita dukung jika ia benar, kita arahkan jika ia bersalah...
10. Kita tunjukkan kepadanya jalan kebenaran dan kebaikan...
11. Kita do'akan kebaikan untuknya.
12. Kita minta pendapatnya dalam banyak hal yang penting...
13. Kita beri hadiah-hadiah kepadanya...
14. Kita maafkan kesalahan kesalahannya yang bersifat pribadi kepada kita...
15. Kita rindukan kebersamaan dengannya dalam kebaikan...
16. Kita nikmati kebersamaan dengannya dengan penghayatan silaturrahim...

JUM'AT MUBARAK...!!!
Smg Allah sll menyatukan hati dan mengokohkan persaudaraan kita..!!

Beauty of The Quran


Kondisi Daarayya Terkini

DAARAYYA ,,,




Kota seribu birmil di suriah. Karena setiap hari kota ini dijatuhi bom sebesar tong berpuluh puluh banyaknya.

5thn lalu... penduduk daarayya 250rb... Kini tersisa sekitar 8 ribuan.

Penduduk yg luar biasa sabar... Menghadapi hujan bom, kepungan, kelaparan... Selama 5thn ini mereka memilih bertahan.

Sampai kemarin... Akhirnya kota ini jatuh ke tangan rezim syi'ah basar hasad.

Sangat sedih rasanya... Entah kenapa ini sangat menyedihkan...

Meninggalkan kota yg hancur tidak membuat penduduk daarayya senang... Mereka justru tak sanggup membendung air mata yg tumpah ruah dg derasnya...

Semua menangis... Sedih... Menangis tanpa suara... Menangis yg menyesakkan tenggorokan...

Mulai dari wanita, anak2 sampai laki2 dewasa... Bahkan mujahidin sekalipun... Meneteskan airmata...

Perpisahan yg sungguh berat... Mereka berpelukan, bersalam salaman, saling menguatkan satu sama lain...

Berpamitan dg daarayya... Kota yg selama ini mereka pertahankan mati2an... Berjalan dengan langkah gontai...

Sesuatu yg aneh terjadi... Ratusan bahkan mungkin ribuan burung2 berterbangan diatas kota daarayya... Mereka juga pergi... Meninggalkan daarayya...

Kabarnya... Penduduk daarayya diungsikan ke kota sahnaya di propinsi Damaskus.

Kabar buruknya... Kota ini dikuasai rezim syi'ah basar hasad. Sedangkan penduduk daarayya sebagian besar adalah keluarga dari para mujahidin.

Sedangkan mujahidin... Mereka harus pergi ke idlib. Bergabung dg mujahidin jaisul fath.

Entah bagaimana nasib penduduk daarayya... Semoga Allaah melindungi mereka...
Sekarang mereka sendirian di kota yg dikuasai rezim...

Hasbunallaah wa ni'mal wakiil...

Sumber :Risalah, shehab news agency, Syria care, middle east update.

Kelicikan Syetan Dalam Menyesatkan Manusia

Kelicikan syetan Allah Ta'ala ceritakan dalam ayat berikut:

وَقَالَ الشَّيْطَانُ لَمَّا قُضِيَ الْأَمْرُ إِنَّ اللَّهَ وَعَدَكُمْ وَعْدَ الْحَقِّ وَوَعَدْتُكُمْ فَأَخْلَفْتُكُمْ ۖ وَمَا كَانَ لِيَ عَلَيْكُمْ مِنْ سُلْطَانٍ إِلَّا أَنْ دَعَوْتُكُمْ فَاسْتَجَبْتُمْ لِي ۖ فَلَا تَلُومُونِي وَلُومُوا أَنْفُسَكُمْ ۖ مَا أَنَا بِمُصْرِخِكُمْ وَمَا أَنْتُمْ بِمُصْرِخِيَّ ۖ إِنِّي كَفَرْتُ بِمَا أَشْرَكْتُمُونِ مِنْ قَبْلُ ۗ إِنَّ الظَّالِمِينَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

Dan berkatalah syetan tatkala perkara (hisab) telah diselesaikan: "Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadamu janji yang benar, dan akupun telah menjanjikan kepadamu tetapi aku menyalahinya. Sekali-kali tidak ada kekuasaan bagiku terhadapmu, melainkan (sekedar) aku menyeru kamu lalu kamu mematuhi seruanku, oleh sebab itu janganlah kamu mencerca aku akan tetapi cercalah dirimu sendiri. Aku sekali-kali tidak dapat menolongmu dan kamupun sekali-kali tidak dapat menolongku. Sesungguhnya aku tidak membenarkan perbuatanmu mempersekutukan aku (dengan Allah) sejak dahulu". Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu mendapat siksaan yang pedih. (QS. Ibrahim: 22)

🐾🐾🐾🐾🐾🐾🐾🐾

Imam Ibnul Jauzi Rahimahullah mengutip dari umumnya ahli tafsir:

"Pada saat ahli surga masuk ke surga, dan ahli neraka masuk ke neraka, maka penduduk neraka begitu marah kepada Iblis. Lalu Iblis pun berdiri di antara mereka dan berkhutbah, sebagaimana yang Allah Ta'ala firmankan."

📚 Imam Ibnul Jauzi, Zaadul Masiir fi 'Ilmit Tafsiir, 2/510

📌 Pelajaran penting dari ayat ini:

📓 Ini adalah pengakuan syetan saat hari pembalasan

📓 Syetan mengakui Allah punya janji dan janjiNya adalah haq

📓 Syetan menyatakan dirinya juga berjanji tapi dia mengakui telah ingkar thdp janjinya

📓 Syetan menyatakan dia tidak berkuasa untuk memaksa manusia mengikuti dirinya, tapi dasar manusianya saja yang mau mengikutinya

📓 Maka, kata syetan kepada manusia, jangan salahkan aku tapi salahkan diri kalian sendiri

📓 Syetan mengakui dirinya lemah dan tidak mampu menolong manusia yang mengikutinya, manusia itu pun tidak mampu menolong dirinya sndiri

📓 Bahkan, syetan pun tidak suka dan tidak membenarkan kalau manusia melakukan kesyirikan, padahal kesyirikan itu disebabkan rayuannya


🌿☘🌷🌻🌾🍃🌸🌳

✍ Farid Nu'man Hasan
Join Channel: bit.ly/1Tu7OaC

Doa, Senjata Terampuh Yang Pernah Ada

Materi Tayang AIHQ
DK PSDM ODOJ

🏡Oase Dakwah
Penyejuk Hati Penggugah Jiwa
Senin, 29 Agustus 2016


Doa, Senjata Terampuh yang Pernah Ada
Oleh: Ummu Adib


Setiap insan di wajah bumi ini, tiada yg tidak mengalami masalah.
Berduka karena perjalanan kehidupan yang diri rasa seperti roller coster tiada hening barang sejenak.
Bersedih karena sakit yang tiada kunjung sembuh, perkara keluarga, kekurangan materi serta berbagai jenis ujian lainnya.

Saudara syurgaku...
Saat usaha sudah mencapai batas maksimal, maka berdoalah... bersimpuh memohon kepada Rabb.
Perkara paling utama yang terkadang dilupakan oleh insan.

“Berdoalah dengan yakin bahwa Allah mengabulkan doamu, dan ketahuilah bahwasanya Allah tidak akan mengabulkan doa dari hati yang lalai”
[HR At-Thirmidzi]

Percayalah...
Setiap ujian, setiap masalah, jika Rabb berkehendak,  Rabb hanya mengatakan, “Kun, fayakun,” maka tuntaslah semua ujian dan masalah tersebut.

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat.
Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.”
[QS Al Baqarah: 186]

“Tidak ada sesuatu yang lebih besar pengaruhnya di sisi Allah Ta’ala selain doa.”
[HR At-Thirmidzi]

Saudaraku...
Adakalanya insan yang terhujani ujian justru menentram hatinya karena diri yang kembali hanya bergantung kepada Rabb.

Jangan biarkan hati larut dalam duka.
Jika tiada tempat bersandar, masih ada sajadah tempat hati bercurah.
Doa dan linangan air mata ketika kembali membersamai Rabb, lebih berharga ketimbang bahagia sementara yang membuat diri semakin berjarak dengan-Nya.


#Semangat Tilawah
#Semangat Menjadi Pribadi Indah


◇◇•◇◇•◇◇•◇◇•◇◇•◇◇
AIHQ - DK PSDM ODOJ
AIHQ/166/29/08/2016
oaseodoj@gmail.com

Keuntungan Bersahabat Dengan Al Quran

1. Kita akan selalu merasa bersama Allah. sebab yang kita baca adalah kalamullah. maka dengan selalu membaca Al Qur'an kita akan seperti ngobrol bersama Allah.  Karenanya para ulama brkata : man araada an yatakallama maallahi fa alaihi bitilaawatil qur'an (siapa yang mau ngobrol dengan Allah maka hendaknya ia membaca Al Qur'an.

2. Ia tidak akan pernah kesepian. Sebab Al Quran akan selalu menemaninya kapan saja.  Membaca AlQur'an adalah ibadah yang tidak dibatasi waktu. Maka dengan membaca Al Qur'an ia akan selalu terhibur. jauh lebih terhibur darti segala macam hiburan yang sia-sia dan dosa. Bila hiburan yang ada hanya bisa mmenuhi kebutuhan syahwat dan nafsu, maka membaca Al Quran adalah hiburan yang mmenuhi kebutuhan jiwa dan hati.

3. Membaca AlQur'an akan menghidupkan jiwa. Dalam Al Qur'an jiwa disebut dengan "an Nafs". Termasuk dalam jiwa : al aql (akal), alqalbu (hati ) dan asy syu'uur (persaan). maka dengan membaca Al Qur'an ketiga dimensi jiwa tersebut akan hidup seperti pohonan yang disiram air hujan.

4. Al Qur'an akan menemani pembacanya sampai di alam kubur dan bahkan akhirat. Ia akan mengawal pembacanya layaknya sahabat mengawal sahabatynya. ia akan memberikan pembelaan lauaknya pengacara membela terdakwa. Ia akan melayani sahabatnya layaknya kekasih melayani keasihnya.

5. Pahala mmbaca Al Qur'an dihitung perhuruf. Nabi pernah bersabda : kullu harfin hasanah  yudhaa af ilaa asyri amtsaaliha (setiap satu huruf satu kebaikan, dilipat gandakan mnjadi sepuluh kali lipat) dalam riwayat lain : bal ilaa sb'u mi ati dhi'fin (bahkan sampai tujuh ratus kali lipat). Bayangkan seandainya anda membaca satu halamn saja, lalu anda hitung dengan menggunakan kalkulator, sungguh tidak terbayang betapa besarnya pahala yang anda dapatkan.

@petunjukmanusia

Keberkahan Membaca Al Quran

🌿Nasehat Ulama🌿:
Kata siapa membaca Al Quran bikin habis waktu?

Membaca Al Quran tidak akan mengurangi waktumu. Justru sebaliknya, ia akan menambah waktumu.

Secara hitungan matematika dunia, membaca Al Quran tampak seakan-akan mengurangi waktu. Dari total 24 jam dalam sehari, seolah-olah berkurang sekian detik, sekian menit atau sekian jam jika digunakan untuk membaca Al Quran.

Tapi, tahukah kamu bahwa waktu yang kamu gunakan untuk membaca Al Quran itu sebenarnya tidak hilang begitu saja. Ia akan diganti oleh Allah dengan keberkahan yang berlipat ganda.

Apa itu keberkahan?

Keberkahan artinya pertambahan dan pertumbuhan. Wujudnya bisa bermacam-macam. Misalnya, pekerjaanmu beres, produktivitasmu meningkat, keuntunganmu bertambah, kesehatanmu terjaga dan seterusnya.

Itu adalah wujud keberkahan yang akan diperoleh oleh orang yang membaca Al Quran.

Pernahkah anda mendengar tentang orang yang stress? Atau orang yang sedang kebingungan mencari inspirasi? Atau orang yang kesulitan menyelesaikan pekerjaannya? Atau orang yang waktunya habis sia-sia tanpa produktivitas?

Itu adalah bentuk-bentuk kehilangan umur yang disebabkan tidak berkahnya waktu.

Tahukah kamu bahwa dahulu para ulama bisa menulis karya-karya agung yang jumlahnya melebihi bilangan umur mereka? Padahal saat itu belum ada mesin ketik, apalagi komputer. Semuanya ditulis manual dengan tangan dan peralatan yang sangat sederhana, ditambah kondisi yang lebih sulit daripada kondisi sekarang.

Mengapa mereka bisa? Jawabnya karena waktu mereka penuh berkah.

Dari mana keberkahan itu? Jawabnya dari membaca Al Quran

Perhatikan kisah berikut:

Ibrahim bin Abdul Wahid Al Maqdisi berwasiat kepada Al Dhiya Al Maqdisi sebelum yang terakhir pergi menuntut ilmu:

Perbanyaklah membaca Al Quran. Jangan kamu tinggalkan. Karena kemudahan yang akan kamu peroleh dalam pencarianmu akan berbanding lurus dengan kadar yang kamu baca.

Al Dhiya mengatakan, "Lalu aku renungi hal itu dan aku praktekkan berkali-kali. Setiap kali aku membaca banyak, semakin mudah aku menghafal hadits dan menulisnya. Jika aku tidak membaca, tidak mudah aku melakukannya."

Sumber: "Dzail Thabaqat al Hanabilah" karya Ibnu Rajab al Hambali.

Jadi, jelaslah bahwa membaca Al Quran membawa keberkahan sehingga waktu yang kita miliki bisa lebih bermakna dengannya.

Jangan kamu membaca Al Quran di waktu luangmu, tapi luangkanlah waktumu untuk membaca Al Quran.

Al Quran dan Obat Rasa Nyeri

Hidayatullah — Al-Quran mengandung mukjizat dan sebagai obat penenang bagi siapa yang ditimpa kecemasan, gelisah semua orang paham. Namun bacaan Al-Quran mampu menurunkan rasa nyeri, mungkin tak semua orang tahu. Sebuah riset terbaru menemukan, membaca Al-Qur`an dengan tartil selama 10 menit, dapat mengurangi nyeri yang dirasakan oleh ibu yang melahirkan lewat operasi Caesar. Demikian menurut hasil penelitian oleh mahasiswa Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) angkatan 2009, Hasto Andi Irawan. [Baca: Subhanallah, Baca al-Quran Turunkan Nyeri Pascamelahirkan]

Sebanyak 16 dari 31 pasien wanita yang diambil datanya di Rumah Sakit Nur Hidayah, Yogyakarta, mengaku mengalami penurunan rasa sakit akibat operasi dalam berbagai tingkatan, setelah membaca ayat-ayat suci Al-Qur`an. Hal ini diduga karena tubuh mendapatkan rangsangan pada saraf lain yang lebih kuat, sehingga dapat mengalahkan nyeri yang dirasakan. Ketika membaca, menyuarakan dan mendegarkan ayat al-Qur`an, ada 3 jenis saraf dalam tubuh yang diaktifkan. Hasil penelitian tersebut dipresentasikan dalam International Conference on Cross Cultural Collaboration in Nursing for Sustainable Development di Bangkok, Thailand, pada 9-10 September 2013 lalu.

Presentasi itu mendapatkan apresiasi positif dari peserta konferensi, yang mayoritas beragama non-Islam dan lulusan akademik tingkat S2 dan S3. Konferensi tersebut diselenggarakan oleh Christian University of Thailand didukung oleh Azusa Pacific University of California dan Kimyung University. Hasil serupa juga pernah diungkap peneliti Iran yang ditulis di Jurnal Sabzevar Univeristy Medical Science, Spring 2003, Volume 10, nomor 1 (27). Dalam artikel berjudul “Pengaruh Bacaan Al-Quran pada Tanda Vital Pasien Sebelum Pembedahan” ditemukan efek dari bacaan Al-Quran pada reaksi fisiologis tubuh terhadap stres menjelang pembedahan.

Studi menguji 61 pasien secara acak dan menjadi dua kelompok. Tanda-tanda vital subyek diukur dari jam 8:00-9:00 malam, sebelum operasi. Kelompok pertama didengarkan Surat an-Nur, Al-Maidah dan At Taubah (15 menit setiap kali) melalui hanphone. Sedang kelompok kedua tidak diperdengarkan bacaan Al-Quran. Temuan menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan signifikan antara pulse (denyut jantung), respirasi dan tekanan darah dalam tahap pertama antara kedua kelompok. Namun, perbedaan antara denyut nadi dan pernafasan dalam tahap kedua sangat signifikan. Juga, perbedaan yang nyata antara variasi tahap pertama dan kedua tekanan darah pada kedua kelompok. Kesimpulannya, mendengarkan bacaan Al Quran menginduksi penurunan respon fisiologis tubuh terhadap stres (tekanan).
Peneliti Belanda Vander Hoven pernah menyatakan “Muslim yang dapat membaca bahasa Arab dan yang membaca Al Qur’an secara teratur dapat melindungi diri dari penyakit psikologis.” Abdullah, 2009 dalam disertasinya berjudul, “The Effects of Reading the Holy Qur’an on Muslim Students’ Heart rate, Blood Pressure and Perceived Stress Levels” juga pernah mengungkap temuan peneliti Universitas Sal ford, Yucel Salih (2007). Di mana telah melaporkan terkait temuan pengaruh bacaan Al-Quran pada tubuh. Dalam percobaan, peneliti menggunakan 30 sarjana Muslim psikologi dari Universitas Salford. Ada 15 lelaki dan perempuan.

Dalam studi pertama peserta ikut serta dalam percobaan yang dibagi menjadi dua kondisi. Peserta diukur denyut jantung, tekanan darah, dan stres sebelum dan setelah membaca Surah Alam Nashrah dan Surah Al Rahman. Dalam kondisi denyut jantung peserta lain, tekanan darah, dan stres yang dirasakan tingkat diukur sebelum dan setelah membaca materi non-religius yang ditulis dalam Bahasa Arab.

Data dianalisa dengan menggunakan dua faktor Anova dan t-tes post hoc. Hasilnya ditemukan, denyut jantung, tekanan darah, dan tingkat stres menurun bagi peserta yang telah membaca Surah Alam Nashrah Surah Al Rahman. Peneliti menyimpulkan bahwa bacaan Al-Qur’an sangat bermanfaat baik secara psikologis dan fisiologis. Sementara, Efek ini tidak dapat ditemukan dengan pembacaan bahan non-religius yang ditulis dalam bahasa yang sama sebagai Al-Quran.

Mukjizat Al-Quran ini mengingatkan kita pada kisah Ilamam Abi Qasim Al Qusyairi An Naisaburi. Kala itu Syeikh Abi Qasim merasa sedih karena putra tersayangnya sakit keras. Di saat sedang tidur, ia bermimpi ketemu Rasulullah Shallahu ‘Alaihi Wassalam dan mengeluhkan keadaannya kepada Nabi. “Bagaimana usahamu dengan ayat-ayat penyembuhan (syifa?),“ tanya Rasulullah padanya. Ketika bangun ia berpikir tentang ayat-ayat penyembuhan itu. Dia menemukan 6 ayat tersebut yaitu: Surat At Taubah: 14, Surat Yunus: 57, Surat an-Nahl:69, Surat Al-Isra’:82, As Syuara: 80 dan Surat Fusyilah:84.
Dalam Surat Al Isra’: 82 disebutkan, “Dan Kami turunkan dari Al Quran itu suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.“ Dalam Surat Fhusilat: 44, “Katakanlah Al Quran itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang yang beriman.“
Dalam QS. Yunus 57 disebutkan;
يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءتْكُم مَّوْعِظَةٌ مِّن رَّبِّكُمْ وَشِفَاء لِّمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ
“Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.”
Mana segeralah ia membacakan ayat-ayat tersebut kepada anaknya. Alhamdulillah, sejak itu ia seakan terlepas dari belenggu (penyakit) yang memberatkan. “Diceritakan, ada seorang lelaki mengeluh kepada Rasulullah saw “Ya Rasulullah. Dadaku merasa sempit dan sesak nafasku.” Nabi saw menjawab, “Bacalah Al Quran “ (HR. Abu Said Al Khudry).

Dalam hadits lain Rasulullah pernah menyampaikan, “Hendaknya kamu menggunakan dua macam penawar; madu dan al Qur’an.” (HR. Ibnu Majah dan al Hakim). Semoga dengan temuan ilmiah semakin menguatkan iman kita dan menjadikan Al-Quran dan Sunnah menjadikan pedoman dan pena