Rabu, 21 September 2016

Keping Cerita Dari Tanah Suci

Selama di Arafah dan Mina ada 1 hal yang sangat terasa. Kalau selama ini kami hanya bergaul dengan kawan2 sekamar, tapi di Mina kami tidur di bawah tenda dengan seluruh jamaah berbagi lapak tempat tidur tanpa kasur dan bantal empuk yang biasanya kami dapatkan di Hotel. Kami bisa melihat satu sama lain, dan membuat aku tercengang membaca pembelajaran dari Allah.

Betapa banyak contoh2 di depan mata, ada ibu yang berusia 68 tahun yang menderita hemiplegi (lumpuh setengah badannya) karena stroke tahun lalu akibat hipertensi dan diabetes berhaji dengan suaminya yang hipertensi dan mulai pikun, mereka ditemani putrinya yang merawat ibunya mulai dari mengganti pampers, memberi obat, membujuk makan... antri di toilet... dan segala tetek bengek yang sangat menguras energi dan emosi namun terlihat sangat sabar, tidak terlihat sedikit pun rasa lelah di wajahnya. Sang Ayah terlihat tidak bisa banyak membantu karena beliau juga harus berjuang untuk dirinya. Kami pernah berkeliling mencari Bapak tsb karena hilang setelah miqot di Tan 'im. Baru ditemukan dinihari secara kebetulan di maktab lain.

Di sudut lain ada pemuda yang sangat santun membujuk ibunya yang sakit rematik tapi ngotot mau ikut jalan kaki melontar kiloan meter. Cara pemuda ini membujuk ibunya di setiap tindakannya, membuat kami diam2 berdo'a semoga memiliki putra yang santun dan soleh seperti dia. Bahkan mau ke toilet pun si pemuda permisi pada ibunya: "mamak ada perlu? Nanti mamak jangan cari saya ya. Saya ke toilet sebentar, mungkin agak lama karena ngantri. Gak apa2 kan mak..." katanya sambil mencium kening ibunya sepintas. Kami terpesona melihat kesantunan anak muda itu. Kami bertanya pada ibunya: "apa do'a ibu untuk anak ibu?" Ibu itu hanya tersenyum. Masya Allah...betapa beruntungnya ibu itu.

Di sisi lain aku melihat seorang ibu yang selalu meneteskan airmata diam2 karena ucapan kasar yang sering terlontar dari mulut anaknya di depan orang lain. Keriput di wajahnya menghilangkan aliran airmata itu. Aku genggam tangannya dengan lembut.

Banyak sekali kisah yang berbicara tanpa skenario, semua dipertontonkan Allah SWT di depan kami, membuat kami lupa sejenak rasa panas dengan temperatur hampir 52°C di bawah tenda Arafah.

Membaca kisah di atas, dalam diam saya pun berdoa mengharap mendapatkan anak dan menantu yang sholeh dan sholehah. Saya juga melihat sendiri beberapa anak laki2 begitu sabar terhadap ibu mereka...mengantar keperluan mereka ke toilet, ikut mengantri, selalu membersamai ibu baik memapah atau mendorong kursi roda.
 Namun ada juga wajah wajah kesal sulit tersenyum di tengah derita dari para anak dan menantu wanita yang tidak sabar terhadap ibunya..bahkan setengah menyeret si ibu karena berjalan lambat ...
 Ya Allah semoga Engkau beri kami kesempatan berbakti pada orang tua kami dengan sebaik baik akhlaq yang kami punya.

Berikan kami anak anak sholeh dan sholehah yang ketika kami masih bersamanya, mereka meringankan kami dengan akhlaqnya.. dan ketika kami meninggalkan mereka, doa doa merekalah yang akan meringankan beban kami di akherat. Aamiin ya Rabb...

dari ODOJ

Tidak ada komentar:

Posting Komentar