Copas dr Bunda Naila M Tazkiyyah
HEbAT Kalimantan
HEbAT Kalimantan
Wajah Hania agak pucat. Siang kemarin memang cuaca sangat
terik. Badannya yang lemas dibiarkannya terjatuh pada sandaranku.
Jangan-jangan dia sudah tidak kuat meneruskan puasanya, batinku.
Hari pertama berhasil Hania selesai sampai maghrib, walau
dengan lemah gemulai. Jangan-jangan kali ini dia menyerah. Jangan-jangan
dia mau minta minum. Jangan-jangan...
"Mi, kalau aku kuat puasa, apa Allah sudah siapkan pahala buat aku?" bisiknya.
Deg! Masyaa Allah.. Mendadak melow, tapi berusaha saya tahan.
"Insyaa Allah pasti sudah Allah siapkan."
"Seberapa banyak?" Tanya dia lagi.
"Banyak sekali. Pahala orang yang berpuasa itu khusus dari
Allah. Pintu surga untuk orang berpuasa juga
ada sendiri. Seperti
kemarin abi ceritakan."
"Iya, betul!" Ujarnya sambil tersenyum sumringah, lalu kembali bangkit dan main lagi.
Masyaa Allah...
Ternyata janji dari Allah yang cukup menguatkannya kembali. Bukan. Bukan
saya yang pertama kali tanamkan nasihat itu melainkan ayahnya, Abi.
Mungkin kita sering mendengar para ayah mengambil cuti di
hari pertama sekolah anaknya. Sama. Abinya Hania juga mengambil cuti di
hari pertama Hania "sekolah" Ramadhan. Sebuah "sekolah" yang penuh
berkah dan berlimpah hidayah bagi siapa saja yang mau meraihnya.
Hari pertama puasa kali ini - bagi anak-anak kebanyakan spt
Hania - memang berat. Saya yang kelimpungan sejak menyiapkan sahur
rasanya semakin siang, semakin pontang-panting mengontrol emosi.
Tentu saja agak sulit mendampingi si 5 tahun yang berazam puasa penuh tapi belum berpengalaman.
Abi, memainkan perannya dengan ciamik di hari perdana itu.
Menemani putri kecilnya itu dengan sangaaat istimewa. Dipangku sambil
dibisikan nasihat-nasihat, digendong kemanapun putrinya ingin
menghabiskan waktu untuk bermain, dipeluk sambil diceritakan kisah epik
shahabat ketika si putri merasa lapar, berpayungan berduaan menikmati
hujan yang turun, dsb. Ah, rasanya saya cemburu berat kalau itu bukan
anakku sendiri
Semua berbuah manis, insyaa Allah. Hari kedua Hania jauh
lebih segar hingga waktu berbuka. Kalau dia sedang melemah, dia kembali
menanyakan janji-janjiAllah atas keutamaan puasa dan bulan suci ini.
Saya tinggal meneruskan apa yang sudah abinya sampaikan kemarin. Walau
konon ibu-ibu yang "kebutuhan" bicara lebih banyak, tapi nasihat dari
lisan seorang ayah itu punya kekuatan yang dahsyat tersendiri. Lihat
bagaimana Al Qur'an mengabadikan nasihat-nasihat parenting yang hampir
semua keluar dari lisan seorang ayah kepada anaknya. Sebagaimana Nabi
Ya'qub 'alaihisalam kepada anak-anaknya, Nabi Ibrahim 'alaihisalam
kepada Nabi Ismail 'alaihisalam, Luqman kepada putranya, dsb.
Terima kasih atas inisiasi yang kece di awal Ramadhan ini, Dendi Wardani.
Ayo, para ayah.. Mainkan terus peranmu!
#qowwamah #abikesayangan #nasihat #ayah #ramadhankids
Tidak ada komentar:
Posting Komentar