Selasa, 26 Juli 2016

Bamboo

Alkisah, ada seorang pemuda yang sedang putus asa dan kehilangan arah. Ia mau meninggalkan semuanya, baik pekerjaan, hubungan sosial, dan bahkan terbersit keinginan untuk mengakhiri hidupnya, karena merasa sudah tak punya arti dalam kehidupannya.

Sebelum melakukan itu semua, ia menyempatkan pergi ke tepi hutan untuk berbicara yang terakhir kalinya dengan seorang sufi bijak yg hidup di sana. Ia bertanya pada sufi tsb, “Apakah anda bisa memberiku satu alasan yang baik untuk jangan berhenti hidup dan menyerah?”

Mendengar pertanyaan itu, si sufi dengan kebijakannya menjawab, “Coba lihat disekitarmu. Apakah kau melihat pepaya dan bambu itu?”
 “Ya aku lihat itu,” jawab si pria tsb.
“Ketika menanam benih pepaya dan benih bambu, alam merawat keduanya secara sangat baik. Alam memberi keduanya cahaya, dan memberi air. Pepaya tumbuh sangat cepat di bumi, daunnya yang hijau segar menutupi permukaan tanah disekitarnya. Tapi ketahuilah, sementara pepaya tumbuh sangat subur dan berbuah, benih bambu tidak menghasilkan apa pun. Tapi, bambu berkata, ‘Aku tidak akan menyerah’,” sebut si sufi menyampaikan filosofi hikmahnya.

“Pada tahun kedua, pepaya tumbuh makin subur dan banyak, tapi belum ada juga yang muncul dari benih bambu. Tapi kembali bambu berkata, ‘Aku tidak akan menyerah’. Di tahun ketiga, bambu belum juga memunculkan sesuatu. Lagi-lagi bambu berkata, ‘Aku tidak akan menyerah’. Seterusnya di tahun keempat, masih juga belum ada apa pun dari benih bambu. Ia tetap berkata, ‘Aku tidak akan menyerah’. Kemudian, pada tahun kelima, muncul tunas kecil. Jika dibandingkan dengan papepaya, tunas itu tampak kecil dan tidak bermakna,” jelas si sufi menambahkan. “Tapi, lihatlah enam bulan kemudian. Bambu tumbuh menjulang sampai 100 kaki!”

“Begitulah, untuk menumbuhkan akar bambu perlu waktu lima tahun. Akar tersebut membuat bambu kuat dan memberi apa yang diperlukan bambu agar mampu bertahan hidup,” terang si sufi. “Ingat, Sang Pencipta tak akan memberi cobaan yang tak sanggup diatasi ciptaan-Nya.”

Si pria pun termenung mendengar semua ucapan si sufi yang kemudian melanjutkan nasihatnya, “Tahukah kau, … Di saat menghadapi semua kesulitan dan perjuangan berat ini, kau sebenarnya sedang menumbuhkan akar-akarmu yang kuat? Sebagaimana alam tidak meninggalkan bambu, Sang Pencipta juga tidak meninggalkan kamu. Jangan membandingkan diri sendiri dengan orang lain. Bambu mempunyai tujuan yang beda dengan pepaya. Tapi keduanya tetap punya manfaat membuat hutan ini menjadi lebih indah.”

“Nah, waktu kamu akan datang. Kamu akan menanjak dan menjulang tinggi. Asal tetap mengandalkan Sang Pencipta dalam setiap rencana, usaha dan jalan hidupmu.”

Sahabat ...
 Kisah tersebut menggambarkan terjadinya proses yang alami, lambat, namun justru di sanalah mengakar kekuatan yang sebenarnya dari batang-batang bambu tsb.

Itulah penggambaran adanya proses kehidupan yang masing-masing makhluk punya jalan dan kisahnya sendiri-sendiri. Maka, ketika rasa pahit dan getir yang kita terima saat ini, jangan pernah putus asa. Sebab, saat itulah kita sedang berproses untuk mengakar kuat dan saatnya nanti menjelma menjadi “batang bambu” yang menjulang ke angkasa. Dan, dengan akar yang kuat itulah kita akan jauh lebih tegar dan kuat saat kembali dihempas angin, bahkan badai sekalipun.

Mari, kita lihat kembali berbagai proses yang kita alami dalam kehidupan. Nikmati, resapi, hayati, hikmah apa yang bisa menjadi pegangan bagi kita untuk berbuat lebih baik dan lebih baik lagi. Jika itu terus kita lakukan, niscaya hasil apa pun yang kita terima, sebenarnya kita telah jadi pemenang sejati atas kehidupan ini. Semoga bermanfaat.

Have wonderful Wednesday all
 Enjoy your day
 Life is so beautiful

Tidak ada komentar:

Posting Komentar