Selasa, 09 Agustus 2016
Move On
Alkisah suatu hari, tampak seorang pemuda mendatangi seorang sufi. Penampilannya lusuh. Bajunya kotor dan tubuhnya dekil.
Dia berkata, "Ya syech, saya datang dari jauh dan telah menempuh perjalanan yang berat. Saya menderita, kesepian dan sangat letih. Ini semua saya lakukan demi mencari jawaban atas masalah hidup saya. Kenapa saya belum menemukan solusi sedikit pun?"
Si sufi itu melihat si pemuda datang kepadanya membawa sebuah buntelan besar. "Apa isi buntelanmu itu?" Tanya si sufi.
Jawab si pemuda, "Isinya sangat penting bagi saya. Di dalamnya ada barang-barang yang mengingatkan saya pada setiap kenangan, tangisan, ratapan, dan air mata saya. Benda-benda ini menjadi penyemangat saya dalam menempuh perjalanan berat mencari solusi.”
"Baik, sekarang ikutlah denganku," kata si sufi dengan tegas.
Mereka berjalan sebentar dan tiba di tepi sebuah sungai kecil. Di tepi sungai itu, ada sebuah perahu sampan kecil. Si sufi segera bergegas naik ke atas sampan tersebut. Maka pemuda itu pun naik ke atas sampan, dan mereka menyeberangi sungai tersebut.
Ketika tiba di tepian, si sufi itu lantas berkata, "Kita sudah sampai. Sekarang pikul sampan ini, dan kita akan melanjutkan perjalanan kita!”
Pemuda itu sangat terkejut. "Tapi sampan ini begitu berat, mana kuat saya memikulnya? Lalu apa gunanya nanti?”
Si sufi itu tersenyum mendangar protes si anak muda. "Benar sekali katamu itu. Ketika kita menyeberangi sungai, sampan ini sangat berguna dan besar artinya bagi kita. Namun ketika kita sudah siap meneruskan perjalanan kita berikutnya, sampan ini hanya akan menjadi beban saja. Kita harus meninggalkannya di tepi sungai, kalau tidak sampan ini hanya akan memberatkan langkah kita.”
Ia meneruskan kata-katanya, "Begitu juga dengan kehidupan kita. Penderitaan, kesepian, kegagalan, tangisan, air mata, dan bencana, semuanya berguna dalam kehidupan kita. Semua itu membuat kita tabah dan kuat menghadapi tantangan hidup di masa depan! Namun pada saat kita ingin melangkah maju, kalau kita tidak bisa melepaskannya, maka hal-hal tersebut malah akan menjadi beban saja.”
Akhirnya, ia berkata pada pemuda itu, "Letakkan barang bawaanmu itu di sini, dan mari kita melanjutkan perjalanan".
Si pemuda mengikuti perintah tersebut. Ia meletakkan buntelan besarnya, kemudian melanjutkan perjalanan. Beberapa saat kemudian, sang guru menanyakan perasaan si pemuda.
Jawab si pemuda, "Kini langkahku begitu ringan dan cepat. Aku baru sadar, kehidupan sebenarnya bisa dijalani dengan begitu sederhana...” Inilah yang aku cari selama ini sebenarnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar