Pada suatu waktu ada seorang pemuda yang datang ke seorang
kakek tua yang bijak. Dengan wajah yang terlihat muram, berjalan
tergontai, terlihat sepertinya si pemuda sedang mempunyai banyak
masalah. Setelah mengetuk pintu dan masuk akhirnya pemuda bertemu dengan
kakek tua lantas pemuda itu berkata banyak hal tentang
kesulitan-kesulitan hidup yang ia alami. Mendengar perkataan pemuda si
kakek bijak bertolak dari tempatnya menuju ke dapur dan memberinya satu
gelas air dan terlihat di tangan kirinya membawa segenggam garam.
Kakek tua menyuruh si pemuda untuk mencampurkan segenggam
garam ke dalam gelas yang berisi air. Lantas si pemuda mengikuti
perintahnya dan dimasukanlah segenggam garam itu kedalam segelas air.
"Saya sudah memasukan garam ini kek, lantas mau di apakan?" si pemuda
dengan rasa penasaran bertanya. "Minumlah!" si kakek menjawab dengan
simpelnya. Kemudian pemuda itu meminum segelas air yang berisi campuran
garam itu. "Ahhh pahit sekali kek" pemuda berkata sambil meludah ke
belakang. Kakek bijak itu tersenyum.
Kemudian di ajaklah pemuda ke belakang rumah yang terdapat
hamparan telaga yang sangat luas dan airnya yang begitu bening di iringi
suara gemercik airnya yang berasal dari pancoran air yang dibuat oleh
si kakek. Sambil membawa segenggam garam kemudian beliau menyuruh
kembali pemuda itu untuk mencampurkan garam itu kedalam air telaga
kemudian mengaduknya. "Sudah saya campurkan garamnya kek lantas mau di
apakan?" si pemuda berkata. "Minumlah wahai anak muda" si kakek
menjawab. "Subhanallah airnya segar sekali kek sungguh tidak ada rasa
asin apalagi pahit seperti tadi saya minum di rumah kakek" pemuda itu
menjawab.
Sambil menepuk punggungnya si kakek bijak itu berkata,
"wahai pemuda pahitnya kehidupan itu tidak berbeda dengan segenggam
garam tidak lebih dan tidak kurang. Yang menentukan pahit dan tidak itu
adalah wadahnya. Kepahitan itu akan didasarkan dari perasaan tempat kita
meletakan segalanya. Itu semua bergantung kepada hatimu. Jika
suatu kegagalan atau kesulitan hidup datang menghampiri hidupmu maka
jalan satu-satunya adalah kamu harus melapangkan dadamu menerima
segalanya dan luaskanlah hatimu untuk menampung setiap kepahitan hidup".
Pak tua itu kembali berkata, "Hatimu adalah wadahnya,
perasaan adalah tempat itu dan kalbumu adalah tempat kamu menampung
segalanya. Jadi jangan jadikan hatimu seperti gelas tadi tapi jadikanlah
hatimu laksana telaga yang akan meredam semua kepahitan hidup dan
mengubahnya menjadi kesegaran dan kebahagiaan".
Setelah itu, pemuda itu mengerti akan semua kepahitan hidup
yang di alaminya. Dia merasa kurang melapangkan dadanya untuk menerima
semua kejadian dan tidak meluaskan hatinya untuk menampung segala
kepahitan hidup. Pemuda itu berterima kasih kepada kakek bijak dan hari
itu si pemuda mendapatkan sebuah pelajaran hidup yang luar biasa dari
kakek tua. Keduanya lantas kembali ke rumah si kakek tua dan pemuda itu
pergi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar