Rabu, 11 Mei 2016

Utuh

Ust. Surya Darma

Sering kita dengar jawaban, ketika mencoba mencari sebab kemunduran umat dalam berbagai bidang, bahwa itu  disebabkan oleh keimanan dan hubungan kita dengan Allah yang lemah. Kita telah meninggalkan mesjid dan sunnah. Kita perlu kembali ke jalan Allah sebab itulah jalan keselamatan sekaligus jalan keluar dari kondisi yang mengenaskan umat sekarang ini.

Siapapun pasti mafhum betapa agungnya posisi iman dan ibadah dalam pandangan ajaran Islam. Namun dalam menemukan dan membentuk kehidupan  dua hal ini hanya merupakan bagian dari sebuah keseimbangan yang total (mu'adalah). Siapapun yang ingin meraih kebaikan dunia dan akhirat, maka ia harus menempuh "jalan sulit" berupa kerja nyata kebaikan,"..dan orang orang yang beriman kepada ghaib dan melakukan kebaikan.." (2:3) dan terlibat dalam pemanfaatan bumi,"...dan terhadap apa yg dikaruniakan, mereka menginfakkannya.." (2:3).

Ini adalah jalan dimana semua kecerdasan dan potensi manusia ditantang untuk digunakan sesuai sunnatullah yang ada. Jadi tentu saja kita tidak boleh berhenti dan senang hanya sebatas ketika melihat orang sudah ramai ke mesjid, majelis taklim meriah, sunnah terpraktekkan, jamaah calon haji dan umrah mengular. Akan sangat naif bila kegairahan beribadah seperti ini tidak dibarengi dengan peningkatan kemampuan umat dalam urusan ekonomi, politik, industri, manajamen, kegiatan riset, maupun pendidikan. Kedatangan Napoleon ke Mesir membawa perubahan besar dalam berbagai bidang bukan karena Mesir waktu itu kekurangan orang saleh dan mesjid sepi dari jamaah, tapi memang waktu itu umat miskin sosok yang mahir dalam bidang ekonomi, politik, sosial dan urusan kehidupan sehari hari. Hal yang sama terjadi di Afghanistan dan Mauritania. Negara ini penuh dengan mesjid, jamaah shalat banyak, dzikir sahut menyahut tak henti, hafidznya bertebaran, tapi negara ini tergolong negara terkebelakang di dunia.


Jamal Sulthan, pemikir muslim yang banyak mengajak untuk menempuh jalan nirkekerasan dalam mewujudkan cita cita Islam, pernah menulis, "Kita wajib mengevaluasi akar terdalam dari cara berpikir kita yang keliru selama ini dalam merespon keterbelakangan umat.  Kemajuan dan kemunduran adalah "anak" dari cara berpikir satu masyarakat. Ia adalah turunan dari sistem yang dalam dan mengontrol persepsi kita tentang alam dan bagaimana hidup di alam..."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar