Ust. Armen Halim Naro rahimahullah
Ketika seseorang mulai beranjak dewasa dan akalnya semakin sempurna, ia
pun mulai berpikir tentang hakikat kehidupan yang sedang dijalaninya,
sebagaimana juga dijalani oleh orang lain. Sementara itu, bumi yang kita
huni ini kian sesak oleh manusia. Ada yang datang dan ada yang pergi,
ada yang lahir dan ada yang mati, silih berganti.
.
Jika hari ini berkuasa seorang raja, maka besok raja lain akan
menggantikannya. Sekiranya hari ini berlangsung pengangkatan seorang
menteri atau jenderal, sebelumnya kita pun mendengar adanya pengangkatan
seorang menteri atau panglima. Yang tetap hanyalah peran manusia dalam
kehidupan ini, sedangkan yang silih berganti adalah para pelaku dan
orang-orang yang memerankannya.
.
Peran kehidupan itu ada yang baik dan ada yang buruk. Dan, manusia
diperintahkan untuk memilih peran yang baik, bukan yang buruk. Allah
subhanahu wa ta'ala berfirman:
.
"Itulah umat yang telah lalu. Baginya apa yang telah mereka usahakan,
dan bagimu apa yang telah kamu usahakan. Dan kamu tidak akan diminta
(pertanggung jawaban) tentang apa yang dahulu mereka kerjakan."
(QS. Al-Baqarah: 141)
.
Di masa Nabi Musa 'alaihissalam, perhatian semua orang tertuju pada
kekuasaan Fir'aun; bahan cerita masyarakat ketika itu hanya terfokus
pada kekayaan Qarun; decak kagum massa hanya terpaku pada arsitektur
bangunan rancangan Haman. Akan tetapi, ke mana kini semua cerita
kehidupan tersebut? Semuanya sirna dan punah. Yang kita temukan hanya
cerita di lembaran Kitab-Kitab suci; apa yang tersisa dari sejarah
kepongahan tersebut? Yang tersisa hanya bekas-bekasnya.
.
Dari rentang perjalanan hidup manusia yang beragam ini, baik pada masa
kekuasaan orang-orang yang shalih maupun dalam cengkeraman orang-orang
yang thalih, Allah subhanahu wa ta'ala tetap memelihara bumi dan alam
raya ini dengan keseimbangan yang berkesinambungan, keindahan yang
menakjubkan, dan ciptaan yang berpasang-pasangan. Adanya siang dan
malam, laki-laki dan perempuan, langit dan bumi, semua itu merupakan
pertanda adanya Sang Pencipta.
.
Dalam hal ini, seorang Badui Jahiliyyah mengatakan: "Lautan yang
berombak, langit yang berbintang, dan bumi yang berlembah, bukankah
semua itu menunjukan adanya Sang Pencipta?"
Diambil dari buku Untukmu Yang Berjiwa Hanif hal 7-8
Tidak ada komentar:
Posting Komentar