Kita membaca tarikh dan musuhpun menyimak sejarah; Al Aqsha
dan Palestina selalu dibebaskan dari paduan dua arah; Mesir dan Suriah.
Inilah pertarungan yang berulang.
Di zaman yang mula, Khalid ibn Al Walid datang dari Suriah
dan ‘Amr ibn Al ‘Ash menghela arah Mesir; maka Allah memilih Abu
‘Ubaidah ibn Al Jarrah membebaskan Al Aqsha dan menjadikan Sayyidina
‘Umar menerima kuncinya.
Lima abad kemudian, setelah mengambil alih Mesir dari
kebobrokan Fathimiyah dan mewarisi Nuruddin Mahmud Zanki di Suriah;
Shalahuddin Al Ayyubi memenangi Haththin dan membebaskan Al Aqsha. Maka
zaman ini; kaum Muslimin yang sempat tersenyum oleh Mursi di Mesir dan
menaruh harap pada Mujahidin di Suriah; harus lagi memanjangkan sabar.
Banyak kepentingan yang belum merelakan dua negeri ini
menjadi pangkalan perjuangan agar Ummat kembali dapat shalat dan
beri’tikaf di Baitil Maqdis. Hendaknya lalu kita tahu; kepedulian soal
Mesir dan Suriah bersatu muara ke iman kita, cinta kita, rindu kita; tuk
menziarahi Masjidil Aqsha merdeka.
Telah 5 tahun lamanya; Suriah membayarkan 300.000 nyawa dan
mengeluarkan jutaan muhajirinnya; tapi mata dunia belum utuh terbuka
bahwa musuh kemanusiaan ini nyata. Katakanlah dia sama sekali tak
bersalah, maka masih layakkah seorang yang tak lagi dapat melindungi
rakyat dipertahankan jadi pemimpin?
Dan bukti bahwa justru dialah sumber kenestapaan rakyatnya
justru bertabur adanya. Tabaarakarrahmaan. Barangkali Allah menyiramkan
darah agar bumi Syam subur; mengambil syuhada’ agar anak-anak sejarah
tahu, betapa mahal dan berharga keyakinan yang harus diperjuangkan.
Mereka yang teguh mewakili kita di garis depan iman;
dibakar musim panas, direpotkan hajat, dicekam ancaman, disuguhi besi
dan api; tapi teguh. Mereka yang darahnya mengalir dengan tulang pecah,
disiram ledakan dan runtuhan rumah; tapi tak hendak membatalkan shaum
sebab ingin syahid berjumpa Rabbnya dalam keadaan puasa.
Hari ini ketika beraneka hidangan tak memuaskan kita;
tataplah sejenak ke negeri yang kucing pun jadi halal karena tiadanya
makanan. Hari ini sungguh kita ditampar Allah dengan Suriah; ketika
kisah Ibu yang memasak batu dan menidurkan anaknya dalam hujan peluru
adalah fakta yang kembali nyata.
Semua kengerian ini dibentangkan di depan mata kita, sebab
mungkin 68 tahun penjajahan Kiblat Pertama, Masjid Suci Ketiga, dan
penzhaliman atas para penduduk tanah mulianya belum utuh mencemburukan
hati imani kita.
Bahkan bagi kita yang tetap musykil akan apa yang terjadi
di sana; sementara sebagian sibuk menelaah berbagai berita, membantu
yatim-yatim ini insyaallah jelas di sisiNya.
Bank Syariah Mandiri no rek. 77-55-12345-7 an. Sahabat Al
Aqsha Yayasan BNI Syariah no rek. 77-55-12345-6 an. Sahabat Al Aqsha
Yayasan
Tulisan Salim A Fillah ini saya dapat dari grup ODOJ, bulan Mei 2016, saat Aleppo digempur oleh musuh-musuh Islam. Islam masih menangis....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar